Kaji Daikou no Arubaito wo Hajimetara Gakuen Ichi no Bishoujo no Kazoku ni Kiniirarechaimashita
Volume 1 - Chapter 7

Bab 7 : Memikirkanmu Dalam Mimpi

Bab 7 : Memikirkanmu Dalam Mimpi

Matahari telah menyembunyikan lebih dari separuh wujudnya, membakar langit hingga berwarna merah padam. Jika melayangkan pandangan ke cakrawala yang jauh, warna ungu mulai pekat menyelimuti, pertanda tirai malam akan segera turun.

Di waktu antara siang dan malam itu, Haruto berjalan sendirian melewati kawasan pemukiman yang sunyi.

Tangan Toujou-san... lembut sekali ya...

Mengingat kehangatan yang baru saja ia rasakan, Haruto tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.

Haruto mengangkat tangan kirinya ke depan mata—tangan yang terus digenggam oleh Ayaka selama menonton film hingga saat mengantarnya pulang tadi. Begitu menyadari fakta bahwa mereka melakukan koibito-tsunagi (genggaman jemari yang saling mengunci), rasa senang dan malu bercampur aduk, membuat wajahnya merona merah.

Kalau Toujou-san jadi pacarku, pasti akan terasa sangat luar biasa...

Kecantikan yang membuat siapa pun menoleh, serta proporsi tubuh yang sempurna. Jika bisa memiliki gadis seperti itu sebagai kekasih, rasa bangga yang dirasakan pasti tak terukur.

Namun, bagi Haruto, penampilan luar Ayaka bukanlah hal yang paling utama. Tentu saja, kecantikan gadis itu tidak perlu diragukan lagi, namun daya tarik Ayaka yang paling menyentuh hati Haruto adalah atmosfer yang ia miliki.

Sosok gadis dengan aura lembut yang ia kenal melalui pekerjaan pengurus rumah tangga, serta sisi feminin Ayaka yang takkan pernah terbayangkan jika hanya melihat sosoknya di sekolah. Haruto mulai merasa sedikit terpikat oleh perbedaan (gap) tersebut.

Tapi yah, mana mungkin kami sampai pacaran... kan?

Setelah menghabiskan hari ini bersama Ayaka, Haruto yakin bahwa ia telah mendapatkan kesan yang baik dari gadis itu. Namun, ia jujur tidak tahu apakah perasaan itu merupakan cinta atau bukan. Meskipun hubungan mereka masih singkat, Haruto menduga kuat bahwa Ayaka adalah tipe gadis yang agak ceroboh dan polos (tennen).

Bisa jadi kesan baik yang Ayaka tunjukkan pada Haruto hanyalah sebagai teman, bukan sebagai lawan jenis. Jika ia salah mengira antara rasa suka sebagai teman (like) dengan rasa cinta (love) lalu menyatakan perasaannya dan ditolak, segalanya akan hancur.

Kalau itu terjadi, pekerjaan paruh waktu sebagai pengurus rumah tangga ke depannya bakal jadi seperti neraka...

Membayangkan hal itu, punggung Haruto seketika terasa dingin meski saat ini sedang puncak musim panas.

Toujou-san sendiri... sebenarnya menganggapku apa ya...

Tepat saat Haruto bergumam pelan, ponsel di saku celananya bergetar. Berpikir bahwa mungkin itu dari Ayaka, ia bergegas mengeluarkan ponselnya dan memeriksa siapa yang menelepon. Begitu melihat nama "Tomoya Akagi" tertera di layar, semangatnya langsung merosot drastis.

Haruto mengetuk layar dengan gerakan sedikit ogah-ogahan untuk menyambungkan panggilan dari Tomoya.

Jangan bercanda ya, Tomoya.

Hah? Baru angkat telepon langsung dimaki? Apa kamu sebegitu cintanya padaku?

Mendapat pelampiasan kekesalan dari Haruto, Tomoya membalas dengan jawaban yang tak kalah tidak jelasnya.

Tiba-tiba menelepon, memangnya ada urusan apa?

Bukan, bukan soal urusan. Sebenarnya ada sesuatu yang benar-benar harus kusampaikan pada Haru.

Sesuatu yang harus disampaikan?

Mendengar nada suara Tomoya yang tidak seperti biasanya dan terdengar serius dari balik ponsel, Haruto mengerutkan dahi.

Apa itu? Sesuatu yang harus disampaikan?

Sebenarnya... hari ini, di rumahku...

Haruto merasa cemas mendengar suara sahabatnya yang terdengar sangat genting, seolah telah terjadi sesuatu di rumahnya. Seakan ingin memancing rasa cemas itu, Tomoya melanjutkan ceritanya dengan nada bicara yang pelan.

Menu makan malamnya adalah... Sukiyaki!!

Mendengar perubahan drastis dari atmosfer serius menjadi nada bicara yang ceria secara tiba-tiba, Haruto nyaris saja membanting ponselnya ke tanah.

Sialan kau! Kembalikan rasa khawatirku! Haruto berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak membanting ponselnya, dan sebagai gantinya, ia berteriak penuh amarah ke arah pengeras suara.

Apalagi! Daging sapi yang dipakai adalah Peringkat A5!!!

Berisik, tahu!

Haruto memberikan tsukkomi (protes) keras terhadap perkenalan menu makan malam sahabatnya yang tidak jelas itu.

Aduh, hari ini Ibu memenangkan hadiah dari departemen store. Ini daging sapi hitam (Kuroge Wagyu) kualitas tertinggi di Jepang, lho! Aku pikir aku harus pamer pada Haru, begitulah kira-kira.

 

Oh, begitu ya. Syukurlah kalau begitu. Sampai jumpa.

Tunggu, tunggu! Dingin banget sih responsmu?! Harusnya kamu lebih iri lagi dong!

Permintaan macam apa itu...

Haruto memasang wajah jengah mendengar rengekan sahabatnya.

Iri, kan? Ini peringkat A5, lho! Gila nggak tuh?

Iya, iya. Gila banget. Wah, aku beneran iri nih.

Meski Haruto mengucapkannya dengan nada datar yang sangat kentara, Tomoya tetap terlihat puas.

Kelihatan kan? Iri banget, kan?

Tomoya terus melanjutkan bicaranya untuk menggoda Haruto.

Kamu pasti seharian ini cuma melototin buku referensi, kan? Di saat kamu melewatkan hari yang membosankan begitu, aku malah makan daging sapi hitam (Kuroge Wagyu). Hidup ini memang nggak adil ya.

Mendengar tawa sahabatnya itu, Haruto merasa sedikit tersinggung dan pelipisnya berdenyut kesal.

Benar-benar nggak adil ya. Mungkin ini hukuman karena aku pergi menonton film berdua dengan Toujou-san.

Iya, itu beneran huku—hah? Nonton film sama Toujou-san? Woi, apaan tuh! Aku nggak dengar apa-apa! Ceritain detailnya sekarang juga!

Bukannya kamu sudah ditunggu daging sapi hitam kelas atas? Nggak enak kalau aku menelepon terlalu lama, jadi aku tutup ya. Sampai jumpa.

W-woi! Tunggu sebentar! Eh? Kalian kencan?

Yah, begitulah.

Kalian jadian?!

Nggak mungkinlah.

Kok bisa gitu?!

Suara teriakan Tomoya yang begitu kencang sampai membuat Haruto refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.

Itu Toujou-san, lho! Kamu kencan sama Toujou-san! Kenapa kamu nggak nembak dia! Sayang banget tahu nggak!

Sayang apanya... Kamu jangan teriak-teriak begitu, telingaku sakit tahu.

Wajar dong kalau teriak! Lawanmu itu Idola Sekolah kita, lho!

Melihat sahabatnya yang begitu heboh, Haruto hanya bisa tersenyum kecut.

Iya, Idola Sekolah yang nggak pernah menerima pernyataan cinta dari laki-laki mana pun. Makanya, kalau baru sekali kencan saja sudah nembak, yang ada malah ditolak mentah-mentah.

Kalau begitu ajak kencan berkali-kali dong! Lagipula kamu kan sering ke rumah Toujou-san buat kerja paruh waktu? Bukannya ini kesempatan emas?

Aku bekerja di sana bukan karena alasan seperti itu. Pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Mendengar jawaban Haruto yang terlampau serius, Tomoya mengembuskan napas panjang.

Terus, soal film itu... kamu yang ajak?

Bukan, aku yang diajak oleh Toujou-san.

Begitu Haruto menjawab, Tomoya terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara kembali dengan nada suara yang serius.

Dengar ya, bukannya ada kemungkinan kalau Toujou-san itu sebenarnya suka sama kamu?

...Mana mungkin.

Haruto merasakan jantungnya berdegup kencang saat Tomoya menyuarakan sedikit harapan yang sebenarnya tersembunyi di sudut hatinya.

Masa sih? Tapi kalau seandainya Toujou-san beneran suka sama kamu, bukannya malah tidak sopan kalau kamu tidak menyatakan perasaan padahal sudah diajak nonton bareng?

Kamu bilang begitu cuma supaya aku nembak dia, kan?

Ya, begitulah.

Mendengar jawaban Tomoya yang santai, kali ini gilirah Haruto yang mengembuskan napas panjang. Sudahlah, diam saja dan makan sukiyaki-mu sana.

Sip! Aku bakal makan yang banyak! Kalau ada kemajuan sama Toujou-san, jangan lupa lapor ya!

Nggak akan pernah aku ceritain padamu.

Haruto melontarkan kalimat terakhirnya pada sang sahabat, lalu segera memutus sambungan telepon.

Ia berjalan melewati jalan sempit di kawasan pemukiman yang mulai gelap, sambil kembali menatap tangan kirinya. Di dalam kepalanya, kata-kata yang baru saja didengarnya terus berputar-putar.

'Bukannya ada kemungkinan kalau Toujou-san itu sebenarnya suka sama kamu?'

Ia teringat kembali sosok Ayaka yang berjalan di sampingnya hari ini dengan ekspresi wajah yang tampak begitu bahagia.

Sambil menarik turun ujung mulutnya yang naik sendiri tanpa seizinnya menggunakan ibu jari dan telunjuk, Haruto bergumam sendiri.

Kayaknya, Toujou-san bakal muncul di mimpiku malam ini...

Setelah menggumamkan itu, wajah Haruto memerah padam karena menyadari isi perkataannya sendiri.


[POV: Ayaka Toujou]

Malam itu, setelah aku pergi menonton film dengan Ootsuki-kun.

Sebelum tidur, aku berbaring di atas tempat tidur sambil membuka ponselku. Hari ini, aku pergi menonton film dengan Ootsuki-kun!

Aku segera mengirim pesan laporan kepada Saki, sahabat sekaligus guru cintaku. Tak lupa, aku juga menyertakan stiker beruang yang sedang memberikan hormat dengan gagah.

Tak lama kemudian, Saki langsung menelepon. Begitu aku menekan layar untuk menyambungkan panggilan, suara Saki yang terdengar antusias langsung menyambar.

Selamat ya! Gimana kencannya sama Ootsuki-kun?

Iya, sukses... kurasa.

Kami bahkan sampai berpegangan tangan, jadi ini boleh disebut sukses, kan?

Wuih! Berhasil ya!

Iya, terima kasih!

Terus? Gimana kencan hari ini? Jarakmu sama Ootsuki-kun sudah makin dekat?

Mungkin... jarak kami sudah cukup dekat sampai bisa pegangan tangan?

Hah? Eh? Tangan? Eh? Hah?!

Sepertinya Saki mendadak kena penyakit tidak bisa bicara lebih dari satu kata.

Bentar-bentar? Eh? Kamu kencan sambil pegangan tangan sama Ootsuki-kun?

Iya, pas lagi nonton film pun kami terus pegangan tangan, lho.

Woi, woi, woi! Apa-apaan itu? Eh? Jangan-jangan, kalian sudah mulai jadian?

Mendengar suara Saki yang kebingungan, aku pun ikut bingung.

Eh? Enggak, belum kok. Soalnya Saki kan bilang jangan nembak dulu.

O-oh... begitu ya... jadi kalian belum jadian ya...

Reaksi Saki yang tampak bimbang membuatku sedikit cemas.

Ja-jangan-jangan, pegangan tangan di kencan pertama itu nggak boleh ya?

Bagiku yang sama sekali tidak punya pengalaman cinta, kencan adalah hal yang asing dan aku tidak tahu standar umum orang-orang. Apalagi kemarin Saki sudah memperingatiku untuk tidak menjadikan manga atau novel sebagai referensi.

Bukan nggak boleh sih... maksudku... yah, bisa dibilang jarak kalian itu agak 'eror' (bugged)?

Jaraknya eror...

Ternyata benar ya, langsung berpegangan tangan di kencan pertama itu aneh? Aduh, gimana ini... Kalau Ootsuki-kun menganggapku gadis yang aneh gimana...

Sa-Saki... apa aku... melakukan kesalahan fatal?

Yah, gimana ya... Coba ceritain dulu, gimana ceritanya sampai kalian bisa pegangan tangan begitu?

Atas pertanyaan Saki, aku pun menceritakan semuanya tanpa sisa; mulai dari kejadian digoda pria tak dikenal yang berujung pegangan tangan, sampai kaitan jari (koibito-tsunagi) di akhir film.

Hmm, begitu ya, begitu ya...

G-gimana menurutmu?

Melihat Saki yang tampak berpikir keras, rasa cemas di hatiku semakin menumpuk.

Ayaka-san, kamu ternyata cukup agresif juga ya.

...A-aku melakukannya berlebihan ya?

Yah, bisa dibilang berlebihan sih. Ini kan bukan dunia manga, sampai melakukan koibito-tsunagi segala... rasanya aku ingin teriak 'kalian cepetan jadian aja deh!' gitu.

Eh? Apa kami... sudah bisa jadian?

Kalau setiap kali pergi keluar aku bisa melakukan koibito-tsunagi dengan Ootsuki-kun dan kencan ke berbagai tempat seperti hari ini... membayangkannya saja sudah membuatku merasa sangat bahagia.

Reaksi Ootsuki-kun pas pegangan tangan nggak buruk, kan? Kalau gitu, kemungkinan sukses kalau kamu nembak dia sekarang itu tinggi, tahu.

Ka-kalau gitu! Besok aku mau nembak dia—

Tunggu dulu!

Saki menghentikanku dengan tajam.

Kemungkinan suksesnya memang tinggi, tapi itu bukan seratus persen. Apa kamu tetap mau melakukannya, Ayaka?

Eh, tapi... kalau kemungkinannya tinggi kan—

Kalau kamu ditolak, cinta pertamamu berakhir di situ, lho.

Mendengar kata-kata Saki, dadaku seketika terasa sangat sesak. Cintaku berakhir. Itu artinya, tidak akan ada lagi kencan dengan Ootsuki-kun, dan hubungan kami tidak akan bisa lebih akrab atau lebih dalam lagi. Tidak akan ada lagi momen berpegangan tangan dengannya... seperti hari ini.

Hanya dengan membayangkan masa depan seperti itu, air mataku rasanya mau tumpah.

Aku nggak mau... itu benar-benar nggak boleh terjadi.

Iya, kan? Makanya, kamu pasti mau meningkatkan kemungkinannya setinggi mungkin, kan?

Iya, tapi... aku harus gimana?

Dalam kepalanya, hanya ada satu cara: yaitu menyampaikan perasaan ini secara jujur kepada Ootsuki-kun.

Begini ya Ayaka. Dalam percintaan itu, menyerang (push) memang penting, tapi sesekali kamu juga nggak boleh cuma mendorong, kamu juga harus menarik diri (pull).

Bukan cuma mendorong, tapi menarik diri?

Menarik diri itu maksudnya... aku harus menahan perasaanku pada Ootsuki-kun?

Dalam kencan kali ini, Ootsuki-kun pasti sudah mulai menyadarimu.

Be-benarkah?

Sudah pasti, kan? Kamu kan mendeklarasikannya sebagai pacarmu lalu kalian berpegangan tangan?

Itu... itu kan karena orang yang menggoda tadi sangat gigih...

Aduh, kalau mengingat kembali kejadian itu sekarang, aku malah jadi sangat malu sendiri... Saat aku sedang tersipu dan merasa sangat kalut, Saki melanjutkan bicaranya dengan nada penuh keyakinan.

Tapi, setelah filmnya selesai pun kalian tetap pegangan tangan, kan? Apalagi pakai gaya koibito-tsunagi. Itu kan sama saja dengan menyatakan secara terang-terangan kalau 'Aku sangat mencintaimu!' padanya.

Ti-tidak sampai begitu... Sangat mencintai itu... yah, memang benar sih, tapi... sangat mencintai itu... ufu-fu...

Kalau diungkapkan dengan kata-kata seperti itu, rasanya memalukan sekali. Yah, aku memang mengaku kalau aku menyukainya, tapi kalau "sangat mencintai" itu mungkin masih... ehehe...

Astaga, kamu ini. Padahal sudah berani melakukan koibito-tsunagi di kencan pertama, sekarang malah malu-malu begitu.

Ha-habisnya...

Iya, iya. Pokoknya begini. Ootsuki-kun pasti sudah terpikir bahwa kemungkinan Ayaka punya perasaan padanya itu ada.

Saki menjawab dengan nada jengah lalu melanjutkan penjelasannya dengan tenang. Uu... guru cintaku ini benar-benar tegas...

Tapi, dia pasti belum bisa yakin seratus persen tentang perasaanmu. Karena bagaimanapun, alasan formalnya kan tadi untuk mengusir pria pengganggu.

Hmm. Terus, apa hubungannya dengan melakukan 'tarik-ulur' tadi?

Sangat berhubungan! Kalau dia tidak yakin, dia pasti akan merasa penasaran, kan? Dia bakal mikir, 'Apa dia beneran suka padaku ya? Ah, tapi mungkin saja tidak...', begitu. Nah, di saat itulah kamu harus sedikit menarik diri supaya dia makin penasaran. Dia bakal mikir, 'Oh, ternyata cuma perasaanku saja ya?'.

Bukannya itu malah memberikan efek sebaliknya? Ootsuki-kun bisa-bisa kehilangan ketertarikannya padaku.

Apalagi sekarang aku sudah sadar sepenuhnya kalau aku menyukainya. Bersikap dingin padanya pasti akan terasa sangat menyiksa bagiku.

Yah, kalau melakukannya berlebihan memang akan berefek buruk seperti yang kamu bilang. Tapi kalau taktik ini berhasil, Ootsuki-kun akan terus-menerus memikirkanmu tanpa henti.

Ootsuki-kun memikirkanku... tanpa henti...

Iya! Dan tanpa sadar, kepala Ootsuki-kun akan dipenuhi oleh sosok Ayaka!!

Kepala Ootsuki-kun dipenuhi olehku... olehku, sampai penuh...

Lalu sebelum dia menyadarinya, Ootsuki-kun juga akan sangat mencintaimu!!

Ootsuki-kun... mencintaiku... sa-sangat... uuuu~...

Gimana ini! Membayangkan saat Ootsuki-kun menyatakan perasaannya saja sudah membuat tubuhku meliuk-liuk sendiri karena kegirangan!

Karena itulah, ke depannya kamu harus terus aktif memberikan kode (appeal). Tapi sesekali, cobalah untuk sedikit menarik diri. Teruslah buat hatinya bergejolak! Paham?

Iya! Aku paham! Kalau begitu Ootsuki-kun bakal menyukaiku, kan!

Yah, tidak mutlak sih, tapi kemungkinannya besar.

Jangan-jangan, saat ini pun Ootsuki-kun sedang memikirkanku? Kalau benar begitu, aku pasti akan sangat bahagia.

Aku akan berjuang! Aku akan mendorong, menarik, dan mengguncang hati Ootsuki-kun!!

Baguslah. Tapi melihat kondisi Ayaka yang sekarang sudah jadi 'Pemuja Berat Ootsuki-kun', aku khawatir niatmu menarik diri malah tetap terlihat seperti sedang mendorong. Tapi yah, mungkin itu juga ada bagusnya.

Pe-pemuja berat... aku ini seorang gadis, lho?

...Iya deh. Pokoknya kalau ada apa-apa lagi, konsultasikan saja padaku.

Iya, terima kasih.

Sama-sama. Kalau begitu, selamat malam.

Selamat malam.

Setelah bertukar ucapan selamat tidur, aku mengakhiri panggilan dengan Saki.

Bukan cuma mendorong, tapi menarik diri juga penting ya... Ternyata cinta itu sulit sekali. Tapi...

Kalau taktik itu berhasil dan cinta ini berbuah manis, aku akan bisa berpegangan tangan dan berkencan lagi dengan Ootsuki-kun. Kali ini, sebagai sepasang kekasih yang sesungguhnya.

Jika itu terjadi, aku ingin pergi ke berbagai tempat bersamanya. Belanja bersama, pergi ke pantai... aku juga ingin menonton film berdua lagi. Tentu saja, kali ini sambil berpegangan tangan.

Tangan Ootsuki-kun tadi terasa besar dan sangat hangat...

Sambil berbaring di tempat tidur, aku kembali mengenang sensasi dari tangan Ootsuki-kun. Tangan yang seolah mendekapku dengan lembut.

Tangan orang yang kusukai, tangan orang yang kucinta.

Hanya dengan menggenggamnya saja, jantungku berdebar begitu kencang, namun di saat yang sama terasa menenangkan dan membahagiakan. Melalui tangan yang bertautan ini, seluruh tubuhku seolah dipenuhi oleh rasa suka cita.

Di tengah kantuk yang perlahan mulai menyergap, aku mendekap tangan kananku—tangan yang tadi menggenggam tangan Ootsuki-kun—ke dada, lalu membungkusnya dengan tangan kiriku sendiri. Dengan melakukan itu, aku merasa seolah bisa bertemu dengannya meski di dalam mimpi...

Hari ini mungkin menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku. Tapi, seandainya aku bisa berpacaran dengannya, seandainya kami bisa menjadi sepasang kekasih, kebahagiaan hari ini pasti akan terlampaui dengan sangat mudah.

Sambil memimpikan masa depan itu, aku perlahan menutup kelopak mataku. Percaya pada "jimat" tangan kanan yang kudekap di dada, aku memercayakan kelanjutan hari yang bahagia ini kepada mimpi.

Seandainya aku bisa bertemu denganmu, meski di dalam mimpi sekalipun...




Kata Penutup

Terima kasih banyak telah membaca karya ini. Saya Shiohon, sang penulis.

Tiba-tiba saja, saya ingin menceritakan sebuah kisah pendek tentang "Oden Dingin" (Hiyashi Oden) yang juga muncul dalam cerita ini.

Kisah ini terjadi pada suatu hari Sabtu di bulan Desember, saat udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang.

Seperti biasa, setelah melepas kepergian istri saya berangkat bekerja, saya menghabiskan hari libur saya dengan melakukan pekerjaan rumah tangga rutin—mencuci piring sisa sarapan, menyalakan mesin cuci, membersihkan rumah dengan penyedot debu, hingga menyikat kamar mandi.

Lalu, saat siang telah berlalu dan saya melangkah keluar untuk mengangkat jemuran, angin dingin yang menggigit menyelimuti tubuh saya. Pada saat itu juga, perasaan Aku ingin makan oden menguasai pikiran saya. Saya pun langsung memutuskan menu makan malam hari itu adalah oden. Saya segera pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bumbu instan dan bahan-bahannya, lalu membiarkannya mendidih di dalam panci sambil menunggu istri pulang.

Malamnya, saya menyantap oden itu bersama istri sambil menonton acara varietas di televisi.

Sambil menikmati makan malam dan mengobrol santai tentang kejadian hari itu atau masalah pekerjaan, saya bertanya, Odennya enak?. Istri saya menjawab, Iya, enak kok, sembari tetap tertuju pada televisi. Pada saat itulah, entah mengapa, "tombol semangat" di dalam diri saya tiba-tiba menyala.

Saya ingin membuat "Oden" pamungkas yang bisa membuat istri saya membelalakkan mata dan melupakan televisi karena terlalu asyik menikmatinya.

Sejak hari itu, hari-hari saya sebagai pencari oden pamungkas pun dimulai. Saya sangat pemilih soal serutan cakalang (katsuobushi) dan rumput laut (konbu) untuk membuat kaldu. Saya sangat teliti soal cara mengambil sarinya, bahan-bahan yang dimasukkan, hingga cara merebusnya. Oden yang dulunya saya buat pada Sabtu sore untuk dimakan malam harinya, tanpa sadar berubah prosesnya; saya mulai meraciknya sejak Jumat malam untuk baru disantap pada Minggu malam.

Apakah Anda semua tahu? Katanya, rasa makanan akan meresap jauh lebih baik saat suhunya mulai mendingin daripada saat sedang direbus panas-panas. Saya mempelajari hal ini dalam perjalanan panjang pencarian oden pamungkas tersebut.

Begitulah, setelah menguras waktu libur dan uang simpanan rahasia saya demi membuat oden pamungkas, akhirnya pada sekitar bulan Maret saat udara dingin mulai melunak, saya berhasil mencapai hasil yang memuaskan.

Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya istri saya menunjukkan ekspresi terkejut dan bergumam, Enak banget!, tepat saat ia mencicipi potongan lobak pertama.

Dalam hati saya melakukan fist bump kemenangan dan menunjukkan wajah sombong (doya-gao) sekuat tenaga di hadapan istri saya.

Beberapa minggu kemudian, pada suatu Jumat malam setelah menyelesaikan pekerjaan seminggu penuh. Dengan suasana hati yang riang, saya berdiri di dapur untuk bersiap membuat oden lagi. Melihat itu, istri saya menatap saya dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan dan berkata, Eh? Bikin oden di hari sehangat ini?.

Tanpa saya sadari, kalender sudah menunjukkan bulan April, musim semi di mana bunga sakura menari dengan indahnya. Sudah bukan musimnya lagi untuk makan oden.

Sambil memeluk panci besar khusus oden, saya menatap istri saya dengan ekspresi penuh keputusasaan.

Bukankah ini sudah bukan musim oden lagi?

Yah, begitulah. Nanti buatkan lagi ya kalau cuaca sudah dingin.

Kalimat yang lembut namun mematikan itu diucapkan oleh istri saya. Kenapa! Kenapa oden tidak boleh dimakan kalau cuaca tidak dingin! Karena sudah telanjur mencapai tingkatan oden pamungkas, saya tidak rela menyerah begitu saja. Saya pun mencari di internet dengan kata kunci "Musim Panas, Oden".

Di sanalah saya menemukan jawaban yang tepat: "Oden Dingin".

Bagi Anda semua, bagaimana kalau mencoba membuang prasangka bahwa oden adalah makanan musim dingin dan sesekali mencoba membuat "Oden Dingin"? Menyesap kaldu dingin saat sedang berkeringat dan haus adalah kenikmatan yang luar biasa, jadi saya sangat merekomendasikannya.

Begitulah sedikit cerita saya mengenai "Oden Dingin". Namun, meski saya bicara panjang lebar soal oden pamungkas, pada akhirnya yang paling saya sukai adalah oden dari minimarket (konbini).

Menyantap lobak panas sambil meniup napas putih di tengah salju yang turun lebat adalah yang terbaik. Hidup Yuzu Kosho (sambal lemon khas Jepang).

Penulis : Shiohon

Haruto Ootsuki, seorang pemuda berspesifikasi tinggi yang pintar dalam pelajaran dan memiliki keahlian mengurus rumah tangga yang sudah mencapai level maksimal. Ayaka Tojo, gadis dengan penampilan luar biasa yang membuatnya sulit berhadapan dengan laki-laki, namun sebenarnya sangat mendambakan sebuah romansa. Saya akan sangat bahagia jika para pembaca sekalian dapat menikmati kisah cinta di antara mereka berdua.

Ilustrasi oleh: Akino Eru

Tokoh utama dalam karya ini, Haruto-kun, berlatih karate. Karena dulu saya juga pernah mendalami karate Kyokushin, saya merasa senang menemukan kesamaan yang tidak terduga ini. Rasanya saya juga ingin bergabung di Dojo Dojima.

👍 0
0
🤔 0