Bab 6 : Film yang Tak Diingat Alurnya, Namun Tak Bisa Dilupakan
Sehari setelah perjuangannya menyiangi gunung ikan di kediaman Toujou, Haruto berada di dojo karate tempat ia berlatih.
Setelah berganti pakaian ke seragam karate (dogi), Haruto merasa bahunya sedikit berat. Ia berkali-kali memutar lehernya untuk melemaskan otot yang kaku. Melihat hal itu, Ishikura—yang juga sedang berganti pakaian—menyapa Haruto.
"Kenapa, Haruto? Bahu lo pegal?"
"Iya nih, Bang. Kemarin habis nyiangi tiga ekor ikan besar."
Kalau cuma Kakap mungkin tidak masalah, tapi Buri dan Sawara yang ia olah kemarin benar-benar berukuran raksasa. Tak heran jika Haruto yang kuat sekalipun merasa sedikit kelelahan. Terutama Buri; tulangnya tebal dan kokoh, sehingga memotongnya benar-benar menguras tenaga. Kalau bukan karena pisau Deba mewah milik keluarga Toujou yang sangat tajam, mungkin kelelahannya akan jauh lebih parah.
"Ikan macam apa yang lo beli sampai bikin pegal begini? Gede banget emangnya?" tanya Ishikura dengan wajah sedikit heran.
Haruto tersenyum kecut. "Bukan saya yang beli, Bang. Saya yang menyianginya di tempat kerja paruh waktu."
"Hoo... ngomong-ngomong kerjaan paruh waktu lo itu apa sih? Di toko ikan?"
"Bukan, saya kerja di jasa pengurus rumah tangga (housekeeping)."
Saat Haruto menjawab pertanyaan Ishikura, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakangnya.
"Haru-senpai akan saya pekerjakan seumur hidup. Tolong urus rumah tangga saya selamanya."
"Waduh?! Kaget gue... Shizuku, jangan tiba-tiba manggil dari belakang dong."
Haruto menoleh dengan kaget. Di sana berdiri Shizuku, putri tunggal pemilik dojo ini, dengan seragam karate dan wajah yang lempeng tanpa ekspresi.
"Kalau tidak bisa merasakan kehadiran lawan, Senpai tidak akan bisa mencapai puncak karate, tahu?"
"Yah, gue nggak punya ambisi setinggi itu juga sih."
"Senpai kurang motivasi ya... Sebagai sesama anggota Dojo Doujima, saya merasa sedih," ucap Shizuku datar sambil melakukan gaya menangis palsu yang sangat tidak meyakinkan. "Mending Senpai contoh Kazu-senpai tuh. Saking mendalami wajah kriminalnya, auranya sekarang sudah sejahat Raja Iblis."
"Woi Shizuku, jangan sembarangan manggil orang Raja Iblis!" protes Ishikura.
"Kazu-senpai itu aslinya keturunan iblis, jadi manusia murni kayak gue nggak bakalan bisa menang lawan dia," timpal Haruto ikut bercanda.
Shizuku mengangguk lempeng seolah setuju. "Masuk akal juga."
"Woi Haruto! Awas lo ya pas latihan tanding (kumite) nanti! Dan lo Shizuku, jangan malah diiyain!"
"Iya, iya. Yang itu nggak penting sekarang," Shizuku mengabaikan amarah Ishikura begitu saja dan menatap Haruto dengan tatapan datarnya. "Senpai, bahunya pegal ya?"
"Eh? Ah, iya... sedikit."
"Sini, saya pijat biar lemas."
Shizuku menjulurkan kedua tangannya di depan Haruto, membuka dan menutup telapak tangannya. Di samping mereka, Ishikura masih mengomel "Dibilang nggak penting... jahat banget," tapi ia diabaikan sepenuhnya.
"Nggak perlu, nggak separah itu kok," tolak Haruto halus.
"Tidak apa-apa. Dengan 'Tangan Tuhan' (God Hand) saya ini, Senpai pasti akan merasa enak dalam sekejap."
Shizuku berbicara dengan penuh percaya diri sambil terus menggerakkan jarinya.
"Lalu, Senpai akan sadar kalau tidak bisa hidup tanpa saya. Begitu pijatannya selesai, Senpai pasti akan memeluk saya dan meneriakkan sumpah cinta abadi."
"Serem banget! Pijatan macam apa itu?! Itu mah namanya cuci otak!"
Haruto refleks membalas dengan candaan. Shizuku hanya berkata, "Sudahlah, yang penting cobain dulu," lalu ia berputar ke belakang Haruto dan mulai memijat bahunya tanpa permintaan. "Gimana? Enak, kan?"
"Yah... memang enak sih."
"Fuhun~" Shizuku mendengus bangga mendengar pujian Haruto. "Gimana? Sudah merasa nggak bisa hidup tanpa saya?"
"Iya, iya. Gue nggak bisa hidup tanpa lo, Shizuku." Haruto menjawab asal.
Pijatan Shizuku ternyata memiliki tekanan yang pas, membuat Haruto memejamkan mata perlahan karena merasa nyaman.
"Haru-senpai."
"Hmm?"
"Ada celah! (Suki ari!)"
Shizuku tiba-tiba memindahkan kedua tangannya dari bahu Haruto ke arah pinggangnya, lalu mulai menggelitikinya tanpa ampun.
"Eh?! Uhyah! Shi-Shizuku! Berhenti, hyahahaha! Berhenti, woi!"
"Orya orya orya orya orya!"
Haruto ternyata sangat lemah terhadap gelitik. Shizuku, yang sangat memahami hal itu, menyerang titik lemah Haruto dengan sangat akurat dan intens. Haruto berusaha meronta dan melepaskan diri, namun Shizuku mendekapnya erat dari belakang sehingga ia sulit lepas.
"Hahahaha! Ka-Kazu-senpai! Uhyah! To-tolong! Tolongin gue! Hahahahaha!"
"Sorya sorya sorya sorya soryaaaaa!"
"Kalian berdua beneran akrab ya," komentar Ishikura dengan wajah jengah melihat mereka berdua bercanda seperti itu.
Serangan gelitik Shizuku terus berlanjut untuk beberapa saat, hingga akhirnya Haruto tumbang dan jatuh terduduk di lantai.
"Gimana, Haru-senpai? Sudah merasakan kekuatan 'Tangan Tuhan' saya?"
Shizuku menatap Haruto yang sedang terengah-engah di lantai. Ia mengusap dahinya seolah-olah baru saja menyelesaikan pekerjaan berat. Meski wajahnya tetap lempeng tanpa ekspresi, ia tampak sangat puas dengan hasilnya.
"Hah... hah... Apa-apaan sih lo tiba-tiba..."
Sebaliknya, Haruto benar-benar kehabisan napas karena dipaksa tertawa selama beberapa menit.
"Itu hukuman karena sudah mempermainkan perasaan suci seorang gadis."
"Hah? Perasaan suci apa sih maksud lo?"
Haruto berdiri dengan kaki yang masih sedikit lemas sambil menatap tajam ke arah Shizuku.
"Bodo amat," balas Shizuku sambil memalingkan wajahnya.
"Dasar, ada-ada saja." Haruto hanya bisa menghela napas pasrah.

Haruto hanya bisa memiringkan kepala melihat tingkah aneh Shizuku yang tiba-masing merajuk. Di sampingnya, Ishikura bergumam dengan nada bersimpati.
"Tapi dipikir-pikir, berat juga ya kerjaanmu."
"Apanya yang berat, Bang? Terus, kenapa Abang nggak bantuin nahan Shizuku tadi?" Haruto menatap Ishikura dengan tatapan tidak puas.
"Bukan itu maksudku. Maksudku kerjaan pengurus rumah tangga itu. Apa kamu nggak merasa muak dipaksa ngerjain urusan rumah tangga yang berat setiap hari?"
"Eh? Ah, tidak juga. Saya tidak merasa keberatan, kok. Lagipula ini pekerjaan yang saya pilih sendiri," jawab Haruto sambil menggeleng.
Haruto jujur dengan perkataannya. Sejauh ini, ia tidak pernah merasa benci bekerja di kediaman Toujou. Sebaliknya, ia merasa sangat puas saat melihat senyum anggota keluarga Toujou ketika menyantap masakannya.
Selain itu, ada faktor lain yang membuatnya betah: keberadaan gadis yang dijuluki "Idola Sekolah" tersebut. Sebelum bekerja di sana, Haruto tidak punya hubungan apa pun dengan Ayaka dan tidak tahu seperti apa kepribadiannya—bahkan Haruto tidak tertarik padanya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai mengenal sisi lain Ayaka yang berbeda dari citranya di sekolah. Sisi "gadis biasa" yang menggemaskan itu membuat Haruto merasa nyaman.
"Saya merasa beruntung bisa dapat kerjaan ini," ucap Haruto tulus.
"Hoo, syukurlah kalau begitu."
Haruto merasa hubungannya dengan keluarga Toujou sudah sangat baik. Meskipun terkadang ia merasa malu atau canggung saat digoda soal hubungannya dengan Ayaka, ia tidak merasa tidak suka. Malah, ada sedikit rasa berdebar di hatinya.
"Benar-benar pekerjaan yang bagus," pungkas Haruto sambil tersenyum.
Melihat senyum Haruto, Shizuku yang tadinya membuang muka tiba-tiba mendekat lagi dengan aura mengancam.
"Haru-senpai, boleh saya gelitik sekali lagi?"
"Tentu saja tidak boleh!!"
Haruto segera mengambil jarak, waspada terhadap tangan Shizuku yang sudah siap menerkam. "Kenapa lo tiba-tiba mau ngetawain gue lagi?!"
"Karena entah kenapa saya merasa kesal melihat Senpai senyum-senyum begitu. Senpai harus diam dan terima nasib dikalahkan oleh saya," ucap Shizuku lempeng.
"Jangan ngaco! Mana ada alasan tidak logis kayak gitu!"
Haruto pun terpaksa menghabiskan waktu sebelum latihan dimulai dengan terus waspada agar Shizuku tidak menyelinap ke belakang punggungnya.
Kontrak kerja rutin Haruto dengan keluarga Toujou adalah tiga hari seminggu, masing-masing tiga jam. Bagi Haruto yang ingin tetap belajar sambil menabung di musim panas, ini adalah kesepakatan yang sangat seimbang.
"Fiuh... pembersihan kamar mandi selesai."
Hari ini, atas permintaan Ikue, Haruto membersihkan kamar mandi secara menyeluruh. Mulai dari jamur, noda air, lendir di saluran pembuangan, hingga debu di sela-sela pintu; semuanya disikat habis. Haruto menatap area tersebut yang kini berkilau bersih dengan puas.
"Nah, selanjutnya membersihkan wastafel—uwoh?!"
"Kyaa! A... maaf! Maafkan aku!"
Saat Haruto berbalik untuk pindah ke wastafel, ia dikejutkan oleh sosok Ayaka yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakangnya. Karena trauma akibat serangan Shizuku tempo hari, Haruto memberikan reaksi kaget yang sedikit berlebihan.
Ayaka juga tampak terkejut melihat reaksi Haruto, tubuhnya gemetar kecil karena panik.
"......Anu, apa ada permintaan tambahan?" tanya Haruto, mengira Ayaka datang untuk memberikan instruksi pekerjaan.
Namun, Ayaka tampak sangat gugup. Matanya melirik ke sana kemari, bicaranya terbata-bata dan tidak jelas.
"A-ah, emm... itu lho? Anu, ada yang ingin aku sampaikan ke Ootsuki-kun... maksudku, ada yang ingin aku tanyakan... kalau boleh... itu... anu... e-ei... ei..."
"Ei?" Haruto bingung.
"E-ei... ei-ga... A-gata? (Golongan darah A?)"
"Hah?"
Mendengar kata yang tiba-tiba muncul tanpa konteks itu, Haruto hanya bisa bengong kebingungan. Melihat reaksi Haruto, Ayaka langsung mencoba menjelaskan dengan panik.
"I-iya! Maksudku, aku penasaran apa golongan darah Ootsuki-kun itu tipe A. Habisnya, cara kerjamu membersihkan rumah sangat rapi dan teliti..."
"Ah, soal golongan darah ya," sahut Haruto yang akhirnya paham setelah mendengar penjelasan Ayaka yang super cepat. Ayaka pun mengangguk berkali-kali seolah meyakinkan diri sendiri.
"Bukan, golongan darah saya O. Kalau di sini saya memang membersihkan dengan serius karena ini pekerjaan, tapi sebenarnya kamar saya sendiri cukup berantakan, kok."
"Oh, begitu ya. Ternyata Ootsuki-kun tipe O." Ayaka tersenyum simpul saat Haruto menambahkan, "Saya ini sebenarnya cukup ceroboh (oozappa), lho." Ayaka tampak senang dan tersipu malu.
"Kalau Toujou-san sendiri?" tanya Haruto.
"Eh?"
"Toujou-san golongan darahnya apa?"
"Ah, aku tipe B."
"Hoo, begitu ya. Sedikit tidak terduga," ucap Haruto dengan wajah sedikit terkejut.
"Masa sih? Memangnya Ootsuki-kun pikir aku tipe apa?"
"Hmm... karena dulu kita jarang berinteraksi dan Toujou-san terlihat punya aura misterius, saya sempat mengira Anda tipe AB. Yah, itu cuma prasangka saya saja sih."
"Aku... memangnya terlihat semisterius itu?" tanya Ayaka sambil memiringkan kepalanya.
"Sebelum kita sedekat ini, Anda memang terlihat sedikit... misterius. Maksud saya, Anda punya aura Takane no Hana (Bunga di puncak gunung yang sulit digapai)."
"Begitu ya... terus, kalau sekarang? Apa sekarang masih terasa seperti itu?" Ayaka bertanya sambil sedikit mendongak, menatap Haruto dengan tatapan uwame-mukai (menengadah manja) untuk mencari tahu reaksinya. Haruto yang merasa Ayaka terlihat sangat imut saat itu, menjawab sambil sedikit membuang muka.
"Sekarang sudah beda. Sekarang saya merasa Anda itu... dalam arti yang positif, adalah gadis biasa. Saya merasa jauh lebih akrab sekarang."
"Benarkah?!"
"I-iya."
Wajah Ayaka langsung cerah dengan senyuman lebar yang sangat bahagia. Haruto, yang ingin menyembunyikan wajahnya yang mungkin mulai memerah, menoleh ke samping sambil menggaruk pipinya. Melihat suasana hati Ayaka yang sedang sangat baik, Haruto akhirnya memutuskan untuk mengangkat topik yang sudah ia tunggu-tunggu sejak sampai di rumah itu.
"Ngomong-ngomong, soal... pembicaraan kita di home center kemarin tentang kebun binatang..."
"Ah! I-iya!" Ayaka bereaksi sangat cepat. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan saat menjawab.
Karena Ayaka mencondongkan tubuh, jarak di antara mereka berdua pun menyempit. Haruto berusaha keras menjaga ketenangannya dan tidak terlalu memikirkan jarak yang dekat itu.
"Soal jadwalnya, minggu depan—"
"Soal itu! Kalau Ootsuki-kun tidak keberatan—"
"Ootsuki-kun~ apa pembersihan kamar mandinya sudah selesai? Eh? Ayaka?"
Ayaka mencoba menyampaikan sesuatu untuk menimpali kata-kata Haruto, namun sebelum ia sempat menyelesaikannya, Ikue datang menginterupsi. Melihat keduanya yang berdiri berdekatan dengan wajah yang sama-sama memerah dan diliputi atmosfer canggung, Ikue langsung menyeringai lebar.
"Ara? Ara ara ara? Sepertinya Mama baru saja mengganggu kalian ya? Maaf ya~"
Ikue tetap memasang senyum jahil di wajahnya. "Silakan dilanjutkan, jangan pedulikan Mama. Nikmatilah waktu berdua kalian selagi masih muda~" ucapnya sambil perlahan menarik pintu geser untuk menutup area wastafel tersebut.
Namun, Ayaka dengan sigap langsung menahannya.
"Mama! Jangan bicara yang aneh-aneh!" Ayaka menarik kembali pintu yang hampir ditutup ibunya hingga terbuka lebar.
"Lho? Bukannya kalian tadi sedang mengadakan pertemuan rahasia (mikkai)?"
"Mana mungkin kami melakukan hal seperti itu?!"
"Benar juga ya. Kalau mau kencan rahasia, harusnya di luar rumah, bukan di dalam," goda Ikue lagi.
"Bukan itu maksudku!"
"Anu... pembersihan kamar mandi sudah selesai, dan sekarang saya akan mulai membersihkan wastafel," sela Haruto mencoba mengembalikan suasana ke mode profesional.
Haruto menyela interaksi ibu dan anak yang mulai ia kenali itu dengan sopan.
"Terima kasih, Ootsuki-kun. Sangat membantu. Oh ya, maaf ya, kalau sudah selesai di sini, bisakah kamu tolong bersihkan toilet juga?" pinta Ikue.
"Baik, saya mengerti."
"Tolong ya. Nah Ayaka, Mama pergi dulu supaya kalian bisa melanjutkan 'pertemuan rahasia' kalian," goda Ikue lagi.
"Sudah kubilang, bukan begitu!"
Ayaka membalas protes, namun Ikue hanya menanggapi dengan "Iya, iya" sambil berlalu pergi. Ayaka menatap punggung ibunya dengan tatapan kesal sampai benar-benar yakin Ikue sudah menghilang, lalu ia menoleh kembali ke arah Haruto.
"Maaf ya, Ootsuki-kun. Mama selalu bicara yang aneh-aneh."
"Tidak apa-apa. Ibumu sangat menyenangkan, saya iri pada Anda, Ayaka-san."
"Eh? Begitu ya?"
"Iya... sosok seorang ibu itu, hanya dengan keberadaannya saja sudah merupakan hal yang patut disyukuri," ucap Haruto pelan.
Ekspresi Haruto saat itu tampak rapuh, seolah ada kesedihan mendalam yang terselip di balik kata-katanya. Melihat suasana melankolis itu, Ayaka tanpa sadar memanggil namanya. Haruto tersentak, seolah baru saja tersadar dari lamunannya, lalu ia tersenyum untuk menutupi perasaannya.
"Lagipula, melihat Toujou-san yang malu karena digoda Ikue-san itu... terlihat sangat imut, lho."
"I-im-imut?!"
Serangan mendadak itu membuat telinga Ayaka memerah seketika. Matanya melirik panik ke sana kemari karena terkejut.
"Ma-melihat orang yang sedang malu dan menganggapnya imut... Ootsuki-kun jahat..." protes Ayaka sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ah, itu... maaf."
Melihat Ayaka yang tersipu malu dan memprotes dengan manja, Haruto sempat terpaku sejenak, seolah tersedot oleh pesona gadis di depannya.
Berusaha menjaga ketenangan, Haruto kembali ke topik utama. "Anu... jadi, soal jadwal ke kebun binatang itu..."
Mendengar itu, Ayaka kembali panik dan langsung memotong pembicaraan Haruto dengan cepat.
"Ah, soal itu! Besok... apa jadwal Ootsuki-kun kosong?"
"Eh? Besok? Besok saya rencananya mau belajar seharian di rumah, jadi tidak ada janji keluar."
"Oh, mau belajar ya... Anu, begini. Besok, apa kita bisa bertemu di luar? Maksudku untuk mendiskusikan jadwal ke kebun binatang. Karena... kalau kita bicara di rumah, nanti Papa atau Mama dengar dan bisa jadi heboh. Jadi, kupikir kalau kita bicara di kafe mungkin bagus. Tapi kalau cuma buat bicara itu saja rasanya tidak enak, kebetulan kemarin aku dapat tiket diskon dari temanku... Jadi, kupikir bagaimana kalau kita pergi nonton film bareng? Tapi kalau kamu sibuk belajar... tidak perlu dipaksakan... anu..."
Suara Ayaka semakin mengecil di akhir kalimat, keberaniannya perlahan memudar hingga ia akhirnya menundukkan kepala sepenuhnya. Haruto menjawab dengan nada yang cerah.
"Tidak, saya juga ingin pergi. Ayo kita nonton."
Seketika, Ayaka mengangkat kepalanya dengan cepat.
"...Benarkah?"
"Iya. Saya tadi cuma sedang berpikir film apa yang sedang tayang sekarang."
"Jadi, besok kita bisa... pergi nonton bareng?"
"Iya, mari kita pergi."
Mendengar jawaban itu, ekspresi Ayaka yang tadinya penuh kecemasan berubah total menjadi sangat cerah. Melihat perubahan wajah itu, Haruto terpesona sejenak. Ia merasa pepatah "tersenyum seperti bunga yang mekar" benar-benar nyata di depannya.
"Kalau begitu, emm... apa Ootsuki-kun punya film yang ingin ditonton?" tanya Ayaka.
"Sebentar ya... boleh saya cek dulu?"
Haruto meminta izin lalu mengeluarkan ponselnya untuk mencari daftar film yang sedang tayang saat ini. Begitu melihat deretan judulnya, dalam hati ia bergumam, "Hmm..."
Sejujurnya, tidak ada satu pun film yang membuatnya berpikir, "Ini dia yang ingin kutonton!". Namun, karena ia tidak mungkin mengatakannya begitu saja, Haruto memutuskan untuk bertanya pada Ayaka.
"Ada banyak pilihan ya, jadi bingung. Kalau Toujou-san sendiri, ada yang ingin ditonton?"
Mendengar pertanyaan itu, Ayaka menjawab dengan nada yang sangat antusias.
"Iya kan! Bingung banget! Tapi, aku sedikit penasaran sama yang ini."
Ayaka mengoperasikan ponselnya dan menunjukkan layarnya pada Haruto. Di sana terpampang halaman promosi sebuah film.
"Natsuzora to Koi" (Langit Musim Panas dan Cinta)
Haruto menggumamkan judul film itu pelan. Itu adalah film yang dibintangi oleh aktor muda tampan yang sedang naik daun dan idola populer yang sedang naik daun—sebuah film yang biasa disebut film 'seishun mune-kyun' (film remaja yang bikin baper).
Film itu populer di kalangan wanita muda dengan sebutan 'Natsukoi', dan menduduki peringkat atas jajaran film Jepang musim panas ini.
"Toujou-san suka film seperti ini ya?"
Selama ini, Haruto yang hanya melihat Ayaka dari kejauhan di sekolah mengira bahwa Ayaka adalah tipe gadis yang tidak tertarik pada asmara dan bersikap dingin terhadap hal-hal semacam itu. Namun, ternyata Ayaka juga hanyalah gadis SMA biasa yang memimpikan cinta romantis.
"Gimana ya? Apa Ootsuki-kun nggak tertarik sama genre begini?" tanya Ayaka dengan ekspresi yang bercampur antara harapan dan rasa cemas. Haruto memberikan senyum tipis yang hangat.
"Tidak juga, saya juga ingin menontonnya. Kalau begitu, besok kita tonton Natsukoi berdua, ya?"
"Benarkah? Boleh pakai film ini?"
"Iya, saya jadi tidak sabar menunggu besok."
Saat Haruto memberikan kepastian, wajah Ayaka langsung dipenuhi senyuman yang sangat cerah dan menyilaukan.
"Iya! Aku juga nggak sabar!"
Melihat senyum Ayaka yang begitu tulus, hati Haruto ikut terbawa suasana bahagia. "Kalau begitu, besok kita janjian di depan gedung stasiun jam sepuluh pagi?"
"Sip! Setuju!"
Ayaka mengangguk berkali-kali dengan riang, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu dan menyodorkan ponselnya ke arah Haruto.
"Anu... mau tukaran kontak... nggak?"
"Ah, benar juga ya."
Jika ingin bertemu di luar, akan jauh lebih mudah jika mereka tahu kontak masing-masing.
"Kalau begitu, silakan scan kode saya."
"Oke."
Haruto memunculkan kode QR aplikasi obrolannya, dan Ayaka segera memindainya.
"Sudah masuk. Aku kirim pesan sekarang ya."
"Baik, silakan."
Tepat setelah kata-kata itu, bunyi 'shupo!' terdengar dari ponsel Haruto. Saat ia mengeceknya, sebuah pesan dari Ayaka masuk: 『Mohon bantuannya ya!』 lengkap dengan stiker kelinci yang sedang mengangkat tangan kegirangan (banzai).
"Kontak Anda sudah tersimpan di tempat saya."
"Iya... mohon bantuannya ya untuk ke depannya."
"Ah, iya. Saya juga mohon bantuannya."
"......Kalau begitu, maaf ya sudah mengganggu pekerjaanmu."
Setelah keheningan singkat yang sedikit canggung, Ayaka melambaikan tangan kecilnya dengan malu-malu namun tampak bahagia, lalu pergi meninggalkan area wastafel.
Sepeninggal Ayaka, Haruto yang kini sendirian di depan wastafel tiba-tiba tersadar akan sesuatu.
"Lho? Kalau sudah tukaran kontak, bukannya kita tinggal diskusi soal jadwal kebun binatang lewat pesan saja?"
Alasan Ayaka tadi adalah karena takut pembicaraan mereka didengar keluarga di rumah, maka harus bertemu di luar. Namun, dengan adanya aplikasi obrolan, mereka seharusnya tidak perlu repot-repot pergi keluar.
Meskipun begitu, Ayaka tetap mengajaknya nonton film.
"Ini... Toujou-san yang memang pelupa (dojicco), atau jangan-jangan...?"
Sebuah dugaan muncul di dalam benak Haruto. Begitu ia memikirkan kemungkinan itu, detak jantungnya tiba-tiba berpacu dengan cepat.
Setelah menyelesaikan tugas pengurus rumah tangga di kediaman Toujou dan kembali ke rumah, Haruto membuka buku referensi di meja ruang tengah dan mulai tekun belajar.
"Haruto, masih mau belajar?" tanya sang nenek yang sudah mengenakan baju tidur, sambil meletakkan secangkir teh hangat di depan Haruto.
"Terima kasih, Nek. Sebentar lagi aku tidur, kok. Soalnya besok aku ada keperluan keluar."
"Ara? Benarkah?" Sang nenek tampak sedikit senang mendengar cucunya yang jarang main itu akhirnya punya rencana pergi keluar.
"Iya, aku mau pergi nonton film."
"Nonton film ya, jarang-jarang sekali. Pergi sama Tomoya-kun?" Karena Tomoya adalah sahabat sekaligus teman masa kecil Haruto, neneknya sudah mengenalnya dengan baik.
"Bukan, bukan sama Tomoya. Eh... aku mau nonton sama teman sekelas."
"Oya, oya. Jangan-jangan dia seorang gadis?"
"Ah... iya, benar." Haruto menjawab dengan sedikit malu, lalu menyesap tehnya untuk menyembunyikan rasa canggungnya.
"Begitu ya, begitu ya. Kalau begitu, besok itu namanya kencan ya."
"Pfftt! Ken-kencan?!" Haruto spontan menyemburkan teh yang baru saja diminumnya karena terkejut mendengar kata-kata neneknya.
"Nenek, bukan begitu. Ini bukan kencan. Ada hal yang harus kami bicarakan, dan kebetulan kami sekalian mau nonton—"
"Haruto."
"I-iya."
Sang nenek memotong penjelasan cucunya dengan memanggil namanya. Karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, Haruto refleks menegakkan punggungnya untuk menjawab.
"Dengarkan baik-baik, Haruto. Bertemu dengan seorang wanita berdua saja di luar, itu namanya kencan. Meskipun pihak wanita mungkin tidak menganggapnya begitu, seorang pria harus menganggapnya sebagai kencan dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaganya (escort). Itulah tata krama terhadap wanita, perilaku seorang pria sejati. Kamu paham?"
"Iya." Mendengar jawaban jujur Haruto, sang nenek mengangguk puas.
"Seorang wanita itu, saat pergi keluar dengan pria, mereka telah meluangkan banyak waktu dan tenaga untuk bersiap-siap. Karena itu, pria harus menghargai usaha tersebut, memujinya, memperhatikannya, dan bersikap lembut padanya. Dan semua itu harus dilakukan secara alami, tanpa rasa bangga atau pamer."
"Iya, aku mengerti, Nek. Besok aku akan berusaha sekuat tenaga melakukan... kencan itu, supaya tidak menyinggung perasaannya."
"Bagus, bagus. Semangat ya." Sang nenek tersenyum lembut, mengucapkan "Selamat malam", lalu keluar dari ruang tengah.
Tinggal sendirian, Haruto merenungkan kata-kata neneknya tadi.
"Benar juga, sebagai etika terhadap wanita, menjaganya dengan baik adalah hal yang wajar bagi seorang pria."
Mungkin pemikiran neneknya terdengar sedikit kuno untuk zaman sekarang. Namun bagi Haruto yang sejak kecil terus dididik untuk "lembut terhadap wanita", ia memantapkan hati untuk menjaga Ayaka dengan baik besok. Ia pun memutuskan untuk menyudahi belajarnya.
"Aku harus cari tahu kafe yang bagus untuk dikunjungi setelah nonton..."
Biasanya jika pergi dengan Tomoya, ia tidak pernah membuat rencana dan hanya pergi ke mana saja sesuka hati. Namun, ia tidak mungkin melakukan hal yang sama pada Ayaka. Ia perlu melakukan riset matang sebelumnya.
Saat Haruto sedang asyik mencari informasi di internet, sebuah notifikasi pesan muncul di bagian atas layar ponselnya.
"Oh, dari Toujou-san." Haruto membuka aplikasi dan mengecek pesannya.
Ayaka: "Masih bangun nggak?"
Pesan itu disertai stiker kelinci yang sedang mengintip malu-malu dari balik tembok. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Neneknya mungkin sudah masuk ke dalam selimut, tapi bagi Haruto, ini masih terlalu pagi untuk tidur.
Haruto: "Iya, saya masih bangun."
Haruto membalas sambil mengirim stiker beruang dengan semangat membara.
Ayaka: "Nggak sabar buat besok! Aku saking nggak sabarnya sampai khawatir nggak bisa tidur malam ini..."
Haruto: "Saya juga saking nggak sabarnya, cuma bisa tidur pas malam hari saja."
Ayaka: "ITU MAH NORMAL BANGET!!"
Saat Haruto mengirimkan pesan bercanda, Ayaka membalas dengan sebuah protes serta stiker kelinci yang sedang memberikan pukulan telak kepada seekor beruang, seolah berkata, “Apaan sih!”
Melihat itu, Haruto pun terkekeh pelan.
「Besok, mohon bantuannya ya.」
「Iya! Aku juga mohon bantuannya ya!!」
Melihat isi pesan yang masuk, Haruto merasa seolah bisa melihat Ayaka yang sedang tersenyum lebar di balik layar ponselnya, dan ia pun tanpa sadar ikut tersenyum.
「Besok aku sama sekali tidak boleh terlambat, jadi sebaiknya kita tidur lebih awal.」
「Iya, benar juga. Apa kamu kira-kira bisa tidur?」
「Aku akan berusaha!!」
「Kalau begitu, selamat malam.」
「Selamat malam. Sampai jumpa besok ya ❤️」
Itu adalah balasan dari Ayaka. Haruto seketika merasa jantungnya berdebar kencang saat melihat tanda hati di akhir kalimat “Sampai jumpa besok ya”.
「Tenang, diriku. Ini tidak punya arti yang dalam.」
Ada orang-orang yang sering menyematkan tanda hati hanya karena menganggapnya lucu. Tentu saja, tanda itu sendiri tidak memiliki makna apa pun. Hanya dipakai karena terlihat imut.
Tanda hati pada pesan yang dikirimkan Ayaka pun pasti memiliki maksud yang sama. Seharusnya tidak ada arti spesial di baliknya.
Haruto dengan lembut menyentuh dadanya, mencoba menenangkan debaran jantung yang sepertinya belum akan mereda dalam waktu dekat.
Keesokan harinya, setelah menyelesaikan belajar di pagi hari—yang tidak seproduktif biasanya—Haruto segera mandi, berganti pakaian, dan merapikan rambutnya menggunakan produk penata rambut yang jarang ia gunakan. Terakhir, ia memeriksa seluruh penampilannya di depan cermin panjang.
「Ya, tidak ada yang aneh.」
Haruto mengangguk setelah memastikan penampilannya rapi.
Sebagai orang yang akan menjaga seorang wanita, penampilan yang bersih adalah tata krama dasar. Setia pada ajaran neneknya, Haruto segera bersiap dan melangkah menuju pintu depan.
「Nenek, aku berangkat.」
「Iya, iya. Hati-hati di jalan ya.」
「Iya.」
Dilepas oleh neneknya, Haruto pun berangkat menuju gedung stasiun yang menjadi tempat janjiannya dengan Ayaka. Dari kota tempat tinggal Haruto menuju gedung stasiun tersebut memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan kereta.
Selama beberapa hari terakhir, cuaca cerah terus berlanjut seolah-olah langit telah melupakan cuaca lainnya selain matahari. Sambil merasa jengah dengan gelombang panas yang terus-menerus ini, Haruto keluar dari dalam kereta yang sejuk dan berjalan menuju tempat janjian.
「Hmm, aku sampai dua puluh menit lebih awal dari waktu janjian.」
Ia keluar rumah dengan perhitungan waktu yang sangat longgar, tapi sepertinya ia terlalu berlebihan. Sambil memikirkan hal itu, Haruto berjalan menuju lapangan di depan gedung stasiun. Di lapangan itu terdapat kursi-kursi taman dan monumen besar yang sering digunakan sebagai titik pertemuan.
Hari ini pun, banyak orang yang duduk di kursi taman atau bersandar di monumen sambil memainkan ponsel mereka demi menunggu seseorang.
Namun, Haruto menyadari ada sesuatu yang sedang gaduh di salah satu sudut lapangan tersebut.
「Hm? Apa sedang ada pertunjukan?」
Terkadang di lapangan ini memang ada seniman jalanan yang memamerkan kebolehan mereka.
Karena masih punya waktu luang sampai jam janjian tiba, Haruto mendekat ke arah kerumunan itu dengan niat menghabiskan waktu sambil menonton pertunjukan. Namun, sayup-sayup terdengar suara orang-orang di sekitarnya, terutama para pria.
「Woi, gila nggak sih itu? Artis bukan ya?」
「Lagi nunggu pacarnya kali ya? Apa coba kita ajak ngobrol aja?」
「Nggak mungkin orang biasa, kan? Model? Atau idol?」
「Eh, tapi postur tubuhnya gila banget, cakep parah.」
Haruto memiringkan kepalanya mendengar isi percakapan yang riuh tersebut. Sepertinya mereka tidak sedang menonton seniman jalanan. Mungkin saja ada model atau idol yang sedang syuting drama atau majalah, dan kerumunan itu adalah orang-orang yang ingin menonton.
Karena penasaran, Haruto pun memutuskan untuk ikut mengintip sedikit. Ia membelah kerumunan orang dengan rasa ingin tahu untuk melihat sosok idol atau model yang sedang menjadi pusat perhatian itu.
Dan saat sosok yang sedang diperbincangkan itu tertangkap oleh mata Haruto...
Seketika itu juga, rasa panasnya musim panas yang ia rasakan tadi langsung lenyap dalam sekejap.
「Toujou-san?!」
Tanpa sadar Haruto menyuarakan nama itu. Beberapa orang yang berada di dekatnya seketika menoleh ke arahnya dengan tatapan heran.
Ayaka berdiri mematung di sana sambil sedikit menunduk dengan raut wajah yang tampak tidak nyaman, seolah ia sadar betul bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
Hari ini ia mengenakan rok flare hitam untuk bawahan. Untuk atasan, ia memakai baju off-shoulder putih dengan kardigan tipis yang tersampir di bahunya. Desain off-shoulder itu sebenarnya tidak terlalu terbuka, melainkan cukup sopan, ditambah dengan kardigan yang menutupinya membuat penampilannya terlihat sangat anggun. Namun, proporsi tubuhnya yang proporsional tetap saja menarik perhatian setiap pria yang lewat. Ditambah dengan kecantikan wajahnya, bahkan pria yang hanya melintas pun pasti akan menoleh satu atau dua kali ke arahnya.
Sekali lagi, Haruto benar-benar menyadari betapa luar biasanya sosok "Idola Sekolah", Ayaka Toujou.
Haruto merasa sedikit ngeri membayangkan jika ia menyapa Ayaka sekarang, ia mungkin akan langsung dikeroyok oleh kerumunan pria yang terbakar api cemburu. Namun, ia tidak mungkin membiarkan Ayaka begitu saja tanpa menyapanya. Tepat saat Haruto memantapkan tekadnya, Ayaka tiba-tiba mengangkat wajahnya dan mata mereka pun bertemu.
Seketika itu juga, ekspresi gelisah dan tidak nyaman di wajah Ayaka berubah drastis menjadi senyuman yang sangat cerah.
「Ootsuki-kun!」
Melihat senyum Ayaka yang sehangat matahari itu, terdengar desahan kecewa dari beberapa pria, dan beberapa lainnya hanya bisa melongo tak percaya. Kini, banyak pasang mata yang menatap tajam ke arah Haruto—pria yang baru saja diberi senyuman seindah itu.
Sambil menerima beban dari tatapan-tatapan tersebut, Haruto membalas senyuman Ayaka yang kini berjalan cepat setengah berlari menghampirinya.
「Maaf, Toujou-san. Saya membuat Anda menunggu ya.」
「Nggak kok! Aku juga baru saja sampai, jadi tidak apa-apa!」

Melihat kerumunan orang yang sempat terbentuk di sekelilingnya, ucapan 「Aku juga baru sampai」 kemungkinan besar adalah kebohongan. Namun, Haruto tidak cukup bodoh untuk mengomentari hal itu. Ia tetap mempertahankan senyumnya dan berkata:
「Kalau begitu, ayo kita pergi.」
「Iya!」
Ayaka menjawab dengan nada yang sangat riang. Saat berjalan di sampingnya, Haruto bisa merasakan berbagai macam tatapan—mulai dari rasa cemburu hingga iri—yang mengarah padanya. Ia sudah memiliki firasat bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat melelahkan.
Namun, di balik pikiran itu, jantung Haruto sebenarnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia berusaha keras menjaga ketenangannya agar debaran itu tidak terlihat pada ekspresi wajahnya sembari melangkah menuju gedung stasiun.
「Film hari ini... aku benar-benar tidak sabar ya.」
Di sampingnya, Ayaka berjalan dengan langkah yang ringan dan ceria sambil melemparkan senyuman manis.
「Iya. Saya juga sangat menantikannya.」
Haruto merasa silau melihat senyum Ayaka yang begitu memikat. Setelah terdiam sejenak, ia memantapkan tekad dan memberanikan diri untuk membuka suara.
「Toujou-san, hari ini... Anda terlihat sangat luar biasa.」
「---?! Be-benarkah?」
Ayaka hari ini jelas-jelas mengenakan pakaian yang dipersiapkan khusus untuk pergi keluar. Sebagai bentuk tata krama terhadap gadis yang telah berdandan cantik demi hari ini, Haruto merasa harus memujinya. Namun, bagi seorang remaja laki-laki, mengutarakan hal itu ternyata sangat memalukan, dan ia baru berhasil mengucapkannya sekarang.
Mendengar kata-kata Haruto, bahu Ayaka sedikit tersentak. Ia menatap Haruto dengan tatapan yang sangat malu.
「Iya. Penampilan Toujou-san hari ini terasa seperti wanita dewasa, tapi di saat yang sama juga sangat imut... emm... menurut saya sangat memikat.」
Haruto merasakan wajahnya sendiri mulai memanas saat mengatakan itu. Jika bisa, ia ingin memuji Ayaka dengan lebih luwes dan keren, tapi rasa malu mengalahkan segalanya sehingga kata-katanya terdengar sedikit terbata-bata.
「U-um... ter-terima kasih...」
Ayaka membalas dengan suara kecil sambil menundukkan wajahnya.
Melihat reaksi Ayaka, Haruto mulai merasa cemas. Apakah perkataannya tadi terdengar terlalu gombal? Atau mungkin malah menjijikkan? Pikiran-pikiran negatif mulai berputar di kepalanya. Rasa khawatir apakah ia sudah menjalankan "perilaku pria sejati" yang diajarkan neneknya semalam mulai merayap di hatinya.
Tepat saat itu, Ayaka yang sedari tadi menunduk tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menatap Haruto.
「Emm... hari ini, Ootsuki-kun juga terlihat keren, kok.」
Ayaka mengatakannya dengan malu-malu sambil memberikan tatapan uwame-mukai (menatap manja dari bawah). Kekuatan serangan itu seketika melenyapkan semua pikiran negatif di kepala Haruto dalam sekejap.
「Ootsuki-kun memang aslinya sudah keren, tapi hari ini... terasa lebih dewasa...」
Mendengar pengakuan Ayaka yang malu-malu itu, Haruto merasakan jantungnya berdegup kencang. Di saat yang sama, ia akhirnya paham mengapa cowok-cowok di sekolah berlomba-lomba untuk menembaknya. Ia baru saja melihat sekilas alasan mengapa Ayaka begitu populer hingga dijuluki "Idola Sekolah".
Setelah saling memuji dan membuat wajah masing-masing memerah, mereka tiba di lantai teratas gedung stasiun tempat bioskop berada. Cahaya di lantai ini sedikit lebih redup dibandingkan lantai lainnya, dan aroma khas bioskop yang seperti karamel mulai menggoda indra penciuman mereka.
Setelah membeli tiket yang sudah dipesan sebelumnya melalui mesin otomatis, mereka menatap ke arah konter popcorn yang mengeluarkan aroma manis yang menggoda.
「Apakah Toujou-san tipe orang yang membeli popcorn atau minuman saat menonton film?」
「Tergantung situasinya sih. Tapi karena aku tidak bisa makan terlalu banyak, biasanya aku sering berbagi (share) dengan teman.」
「Kalau begitu, apakah kali ini kita lakukan hal yang sama?」
「Iya, setuju.」
「Baiklah. Kalau begitu, saya akan pergi membelinya. Tolong tunggu sebentar di sini ya.」
Karena area di sekitar konter pemesanan cukup padat, Haruto meminta Ayaka untuk menunggu sementara ia mengantre sendirian. Mungkin karena sedang musim liburan musim panas, jumlah pengunjung sangat banyak hingga terbentuk tiga barisan panjang di depan konter.
「Ini sepertinya akan memakan waktu sedikit lama.」
Sambil bergumam pelan, Haruto mengantre di barisan paling belakang pada deretan tengah.
「Yah, waktunya masih longgar, kok.」
Karena mereka sampai lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, masih ada cukup banyak waktu hingga film dimulai. Haruto mengembuskan napas pelan sambil berdiri di barisan yang bergerak lambat itu.
Berkat jarak yang sedikit menjauh dari Ayaka, ia akhirnya bisa beristirahat sejenak dari berbagai tatapan yang sedari tadi terus menghujaminya.
「Toujou-san ternyata selalu terpapar tatapan seperti ini setiap kali pergi keluar ya. Melelahkan juga.」
Sambil merasa kasihan pada Ayaka, Haruto secara tidak sengaja melayangkan pandangannya ke arah gadis itu menunggu. Di sana, ia melihat Ayaka yang tampak kebingungan dengan ekspresi terdesak karena sedang disapa oleh tiga orang pria yang terlihat seperti mahasiswa.
Melihat pemandangan itu, Haruto langsung keluar dari barisan—padahal sebentar lagi giliran dia memesan—dan bergegas kembali ke sisi Ayaka.
「Anu, permisi.」
Haruto memanggil dengan suara yang agak keras. Ketiga pria itu menyadari keberadaannya dan menoleh.
「Lho? Jangan-jangan dia sudah punya pacar?」 Pria dengan rambut cokelat terang dan banyak tindikan di telinganya menatap Haruto dengan sedikit terkejut.
「Oalah, ternyata lagi kencan ya. Maaf ya sudah mengganggu. Maaf, maaf~」 Pria berambut cokelat lainnya dengan tindikan serupa mengangkat tangannya sedikit ke arah Ayaka untuk meminta maaf.
「Ah, tidak... itu, tidak apa-apa.」
Sambil berkata demikian, Ayaka perlahan-lahan merapat mendekati Haruto yang telah kembali. Melihat hal itu, pria ketiga—pria dengan rambut merah mencolok serta tindikan di kelopak mata dan bibir—tersenyum lebar dan berkata dengan nada yang semakin bersemangat.
「Eh?! Ini beneran pacarnya? ...Cuma teman biasa, kan?! Kalau begitu, gimana kalau kita main berlima saja sekalian sama kami! Kita ke karaoke atau main darts yuk!」
「Maaf, kami punya rencana menonton film setelah ini.」
Haruto menunjukkan sikap yang tegas terhadap pria berambut merah yang sedikit memaksa itu. Namun, pria rambut merah itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah dan tetap memasang senyum di wajahnya.
「Oh ya? Nggak apa-apa, kami tungguin kok! Kalau perlu, kami ikut nonton bareng juga boleh, kan? Ya nggak?」
Saat si rambut merah menoleh ke dua temannya, pria berambut cokelat yang tadi meminta maaf pada Ayaka tersenyum kecut.
「Woi, jangan mengganggu begitulah. Kasihan mereka, kan mereka lagi kencan.」
「Hah? Beneran kencan? Bukan, kan? Cuma teman, kan? Iya, kan?」
Pria berambut merah itu mencoba mengintip ke arah Ayaka yang setengah bersembunyi di belakang punggung Haruto. Merasa sedikit kesal dengan tindakan pria itu, Haruto baru saja hendak membuka mulut untuk membalas, namun Ayaka yang berada di belakangnya berbicara lebih cepat darinya.
「Dia pacar saya! Ka-kami sedang berpacaran! Dan... itu, kami sedang kencan! Jadi... tolong tinggalkan kami...」
Suara Ayaka mengecil di akhir kalimat, dan Haruto segera menyambungnya.
「......Begitulah kenyataannya. Jadi, bisakah kalian berhenti mengganggu kencan kami?」
Seketika, pikiran Haruto sempat berhenti berputar karena pernyataan Ayaka. Namun, ia segera menenangkan diri dan memperingatkan pria berambut merah itu.
「Oh ya? Serius? Kalau gitu, boleh dong saya minta maaf secara resmi? Beneran permohonan maaf. Boleh, kan?」
Meski sudah dibilang begitu, si rambut merah masih saja bersikeras dan mencoba menjulurkan tangannya ke arah Ayaka yang berada di belakang Haruto.
Pada saat itu juga, Haruto bergeser setengah langkah untuk menghalangi lengan pria itu dan menyembunyikan Ayaka sepenuhnya di balik punggungnya. Bersamaan dengan itu, ia menatap tajam pria berambut merah tersebut.
「Kalian mengganggu. Tolong hentikan.」
Haruto berucap pelan dengan suara yang berat. Matanya memancarkan tekad bertarung yang tajam, persis seperti saat ia sedang melakukan latihan tanding (kumite) karate.
「A-apa-apaan sih? Kan cuma mengajak main sebentar...」
Melihat aura yang terpancar dari Haruto, pria berambut merah itu pun akhirnya ciut. Kedua temannya yang lain segera menariknya untuk berhenti.
「Woi, berhenti nggak! Kasihan mereka, tahu! Ayo pergi!」
「Iya, beneran maaf ya~ Selamat menikmati kencannya ya~」
「Bentar, bentar! Lepasin! Jangan ditarik dong!」
Sambil terus mengoceh, ketiga pria itu pergi dengan gaduh meninggalkan Haruto dan Ayaka. Melihat mereka menjauh, Haruto pun mengembuskan napas panjang, melepaskan sisa-sisa "mode karate" yang tadi sempat menyelimutinya.
「Fiuh... orang-orang yang cukup pemaksa ya.」
「I-iya. Tadi agak menakutkan. Syukurlah Ootsuki-kun segera kembali...」
「Tidak, ini kesalahan saya karena meninggalkan Toujou-san sendirian. Seharusnya saya sudah bisa memprediksi kalau Toujou-san pasti akan diganggu orang, maafkan saya.」
Haruto menundukkan kepalanya meminta maaf, namun Ayaka segera menggelengkan kepalanya dengan panik.
「Enggak! Ootsuki-kun nggak salah kok! Lagipula, aku yang seharusnya minta maaf. Karena... itu... aku bilang kalau Ootsuki-kun itu... pacarku.」
Ayaka berkata sambil menunduk dengan nada penuh rasa bersalah. Haruto membalasnya dengan senyuman tipis.
「Tidak apa-apa. Pria tadi memang sangat keras kepala, kalau tidak dibilang begitu mungkin dia tidak akan mau pergi.」 Untuk orang-orang seperti si rambut merah tadi, memang harus ditegaskan dengan sedikit berlebihan agar maksud kita tersampaikan.
「Iya, emm... Ootsuki-kun, apa kamu tidak merasa keberatan? Maksudku, soal aku yang bilang kita pacaran...」
「Mana mungkin saya merasa keberatan. Malahan, saya sedikit merasa senang.」
「Benarkah?!」
Mendengar kata-kata Haruto, ekspresi cemas Ayaka seketika berubah menjadi cerah.
「Tentu saja. Kalau Anda tidak keberatan, silakan gunakan saya sepuasnya sebagai 'pengusir pria' jika dibutuhkan.」
「Ja-kalau begitu... anu... emm... ah, enggak jadi deh.」
Haruto memiringkan kepalanya saat Ayaka tiba-tiba berhenti di tengah kalimat.
「Ada apa? Kalau ada sesuatu, katakan saja jangan sungkan.」
「...Boleh?」
「Tentu saja.」
「...Kalau begitu. Anu... mau... pegangan tangan?」
Ayaka mengucapkannya dengan suara yang sangat pelan, nyaris hilang tertiup angin, sementara telinganya memerah padam.
「Pegang tangan, ya?」
Karena refleks bertanya kembali, Ayaka hanya mengangguk kecil. 「Asal Ootsuki-kun tidak keberatan... tapi menurutku kalau begini kita akan terlihat lebih seperti sepasang kekasih. Jadi kejadian seperti tadi tidak akan terulang lagi...」
「Ah... be-benar juga.」
Ucapan Ayaka masuk akal. Jika mereka berjalan sambil berpegangan tangan, siapa pun yang melihat pasti akan langsung menyimpulkan bahwa mereka adalah pasangan kekasih. Dengan begitu, tidak akan ada lagi orang-orang yang berani mencoba menggoda Ayaka seperti tadi.
「Apakah Toujou-san sendiri tidak apa-apa?」
「Aku... iya.」
Setelah mengangguk, Ayaka menambahkan dengan suara yang sangat pelan, selembut tetesan air yang jatuh ke genangan, 「Kalau dengan Ootsuki-kun...」
「Begitu ya... kalau begitu, mari kita berpegangan tangan.」
「U-um.」
Mendengar jawaban Ayaka, Haruto menjulurkan sebelah tangannya dengan sedikit kaku. Ayaka pun ikut menjulurkan tangannya.
Haruto perlahan menggapai tangan Ayaka yang putih dan ramping. Saat ujung jari mereka bersentuhan untuk pertama kalinya, bahu keduanya tersentak kaget dan mereka refleks menarik tangan masing-masing.
「......」 「......」
Setelah sesaat terdiam sambil saling bertukar pandang, mereka kembali membuang muka dalam keheningan. Haruto akhirnya memantapkan tekad, ia segera menjulurkan tangan dan menggenggam jemari Ayaka. Pada saat genggaman itu bertaut, bahu Ayaka kembali tersentak seperti tadi, namun kali ini ia tidak melepaskannya. Ia justru membalas genggaman tangan Haruto dengan lembut.
「Ah, popcorn-nya... bagaimana? Mau beli?」
Tepat setelah menggenggam tangan Ayaka, Haruto teringat bahwa ia tadi sedang dalam proses mengantre popcorn. Ia berbicara sambil menatap tangan Ayaka yang sedang ia genggam. Situasi di sekitar konter pemesanan masih sangat padat, dan rasanya akan merepotkan orang lain jika mereka mengantre sambil terus berpegangan tangan seperti ini.
「Tidak usah. Aku... tidak mau... lepasin... tangan ini.」
Ayaka menjawab dengan suara yang masih sangat pelan. Saat ini, wajahnya jauh lebih merah dibandingkan sebelumnya sepanjang hari ini.
「Begitu... ya.」
Sambil merasa wajahnya sendiri pun pasti ikut memerah, Haruto menarik lembut tangan Ayaka yang sedang ia genggam.
「Kalau begitu... mari kita pergi menonton filmnya.」
「Iya.」
Ayaka mengangguk patuh dan mengikuti langkah Haruto yang menuntunnya.
Melihat betapa manisnya gadis itu, Haruto sudah tidak peduli lagi dengan tatapan penuh dengki dari orang-orang di sekitarnya.
Keduanya masuk ke dalam ruang teater sambil tetap berpegangan tangan. Dengan tangan yang tidak menggenggam Ayaka, Haruto memeriksa nomor kursi yang tertera pada tiket sambil melangkah menuju baris tempat duduk mereka.
Karena mereka masuk jauh lebih awal dari jam tayang, penonton lain masih sedikit, sehingga mereka bisa sampai di depan dua kursi yang berdampingan tanpa harus melepaskan tangan.
「Kursi ini ya.」
「Iya.」
Semenjak mereka berpegangan tangan, sikap Ayaka terus terlihat lembut dan penurut; kata-kata yang keluar dari mulutnya pun sangat singkat dengan suara yang pelan.
「Kalau begitu, mari kita duduk.」
「Iya.」
Haruto bermaksud melepaskan genggaman tangan Ayaka sejenak untuk menurunkan alas kursi yang terlipat. Namun pada saat itu, Ayaka justru meremas jemarinya sedikit lebih erat, seolah-olah ia merasa berat untuk berpisah.
Seakan-akan ia ingin berkata, 「Jangan lepaskan.」
Namun, karena itu hanya terjadi sesaat, Haruto akhirnya tetap melepaskan tangannya.
Keduanya duduk dalam keheningan. Haruto merasa sedikit gelisah teringat tindakan Ayaka sesaat sebelum mereka melepas tangan tadi, lalu ia meletakkan tangannya di atas sandaran kursi.
Tiba-tiba, punggung tangannya diselimuti oleh sensasi yang lembut dan hangat. Haruto refleks menundukkan pandangan ke arah tangannya sendiri. Di sana, tangan Ayaka yang putih dan kecil bertumpu dengan ragu-ragu di atas tangannya. Saat Haruto mengangkat wajahnya, ia melihat Ayaka yang sedang menunduk seolah ingin melarikan diri dari tatapannya.
Maksudnya, apa dia ingin berpegangan tangan lagi? Haruto mencoba menerka maksud Ayaka. Ia mencoba membalikkan telapak tangannya sendiri agar menghadap ke atas untuk menyambut tangan Ayaka. Seketika itu juga, Ayaka langsung menggenggam erat tangan Haruto.
Haruto merasa sangat penasaran seperti apa ekspresi Ayaka saat ini, jadi ia mencoba melirik wajah gadis itu. Tak disangka, matanya justru bertemu dengan mata Ayaka yang sedang tersenyum kecil dengan raut bahagia meski tampak sangat malu.
Melihat ekspresi yang begitu menawan itu, Haruto sempat terdorong oleh keinginan untuk terus menatapnya. Namun, karena merasa malu karena mata mereka bertemu, Ayaka segera membuang wajahnya ke arah layar bioskop.
Layar lebar di depan mereka masih belum menampilkan apa pun. Namun, Ayaka terus menatap layar putih kosong itu dengan saksama, seolah-olah filmnya sudah mulai diputar.
「Waktunya masih cukup lama ya.」
「Iya.」
「Bahkan iklan pratinjaunya saja belum mulai.」
「......Iya.」
「Orang-orang mulai bertambah banyak ya.」
「......Iya.」
「......」
「......」
Karena percakapan mereka tidak kunjung mengalir, Haruto mengalihkan pandangannya ke sana kemari, mencari topik pembicaraan lain. Tiba-tiba, Ayaka berucap dengan suara yang tetap pelan.
「...Ha-hari ini cuacanya sangat bagus ya.」
「Eh? Ah, iya. Benar juga. Langitnya cerah sekali.」
「Iya... cerah sekali, ya.」
「Iya... anu...」
Percakapan kembali terhenti. Fakta bahwa mereka membicarakan cuaca di dalam ruangan teater yang remang-remang tanpa jendela sama sekali adalah bukti nyata bahwa mereka sudah kehabisan bahan pembicaraan.
「...Mungkin sebentar lagi pratinjaunya akan dimulai?」
「...Sepertinya begitu...」
Penonton di dalam teater mulai semakin ramai. Haruto mulai merasa sedikit panik karena percakapan yang terus-menerus macet, namun ia mencoba untuk tetap tenang dan bersikap setenang mungkin untuk melewati situasi ini.
「......」
Keheningan yang menyelimuti mereka berdua justru membuat Haruto semakin sadar akan tangan Ayaka yang sedang ia genggam. Telapak tangan yang putih dan ramping itu tadinya terasa sedikit dingin saat pertama kali disentuh, namun kini terasa hangat.
Ayaka Toujou, sang "Idola Sekolah" yang terkenal paling cantik di sekolah mereka. Menyadari bahwa ia sedang duduk berdampingan dan berpegangan tangan dengan gadis itu di dalam bioskop, Haruto merasakan debar jantungnya tak bisa tidak semakin cepat.
Di tengah pikiran yang hampir mencapai batasnya karena kehangatan yang merambat dari tangan kiri Ayaka, Haruto membatin.
Haruto memahami alasan berpegangan tangan untuk mengusir pria pengganggu. Namun, ia berpikir seharusnya tidak perlu lagi berpegangan tangan saat film sedang berlangsung. Meski begitu, melihat situasi di mana Ayaka sepertinya sama sekali tidak berniat melepaskan tangannya, sebuah interpretasi yang menguntungkan bagi dirinya mulai terlintas di benak Haruto.
Ia melirik kondisi Ayaka dari sudut matanya. Gadis itu masih terus menatap layar dengan pipi yang merona merah. Melihat profil wajah Ayaka dari samping, Haruto segera mengubah pemikirannya.
Interaksi antara dirinya dan Ayaka baru saja dimulai baru-baru ini. Ia menggelengkan kepalanya pelan, meyakinkan diri bahwa selama waktu yang singkat itu, ia tidak melakukan perbuatan atau tindakan apa pun yang sekiranya bisa membuat Ayaka menaruh hati padanya.
Dia tidak membenciku, tapi bukan berarti dia menyukaiku. Haruto berusaha berpikir seobjektif mungkin dan menepis jauh-jauh interpretasi yang terlalu menguntungkan bagi perasaannya sendiri.
Saat ia sedang berpikir demikian sambil terus melirik ke arah Ayaka, tiba-tiba pandangan Ayaka yang tadinya tertuju pada layar beralih ke arahnya, dan mata mereka pun bertemu dengan telak.
「---?!」
「Hau?」
Haruto segera membuang muka ke arah depan dengan panik, sementara Ayaka menundukkan kepalanya. Tepat saat suasana canggung kembali menyelimuti mereka berdua, untungnya pencahayaan di dalam teater meredup satu tingkat dan iklan mulai ditayangkan di layar.
「Iklannya sudah mulai ya.」
「Iya, sudah mulai.」
Percakapan yang singkat seperti biasa, namun dengan adanya gambar yang bergerak di depan mata, rasa canggung itu sedikit tersamarkan. Haruto menatap kosong ke arah karakter kamera yang menari dengan lincah untuk memperingatkan larangan perekaman film ilegal, sambil terus memikirkan reaksi Ayaka.
Melihat reaksi gadis itu tadi, ia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap sedikit. Namun, perasaan bahwa hal itu mungkin hanya kesalahpahaman belaka juga terasa kuat. Bagi Haruto yang masih memiliki kesan kuat tentang Ayaka di sekolah, ia merasa Ayaka adalah sosok yang jauh dari hal-hal seperti cinta pada pandangan pertama.
Sambil merenungkan hal itu, iklan pun berakhir dan ia menatap kosong ke arah cuplikan film-film yang akan segera tayang, hingga akhirnya suasana teater menjadi gelap gulita. Logo berbentuk segitiga milik perusahaan produksi film muncul di layar dari balik deburan ombak yang menghantam karang.
「Sudah dimulai ya.」
「Mm... tidak sabar ya.」
「Iya.」
Setelah percakapan singkat itu, film pun dimulai. Cerita diawali dengan penggambaran keseharian yang biasa dari seorang siswa laki-laki yang diperankan oleh aktor muda tampan, dan seorang siswi yang diperankan oleh idola yang sedang naik daun di sekolah mereka sebelum liburan musim panas. Haruto merasa lega untuk sementara karena akhirnya bisa terlepas dari percakapan yang tersendat dan keheningan yang canggung. Namun, perasaan lega itu hanya bertahan sejenak. Masalah lain mulai mengusik pikiran Haruto.
Film yang mereka tonton adalah apa yang disebut sebagai 'film remaja yang bikin baper' (mune-kyun). Karena itu, di berbagai bagian film, banyak adegan romantis yang ditampilkan seperti 'elus kepala', 'pelukan dari belakang', 'menarik lengan', 'memegang dagu', dan berbagai tindakan manis lainnya.
Setiap kali adegan-adegan itu muncul, Ayaka mengeluarkan desahan seperti 「Haa」 atau 「Hou」, dan menatap layar dengan mata yang berbinar-binar penuh minat.
Jika hanya itu, bagi Haruto sebenarnya tidak masalah. Ia hanya akan membatin, 'Ternyata Toujou-san itu cukup, ah tidak, sangat gadis remaja sekali ya', dan selesai begitu saja. Masalahnya adalah, saat ini mereka sedang berpegangan tangan.
Dan kemungkinan besar secara tidak sadar, Ayaka akan meremas telapak tangan Haruto dengan lembut setiap kali ia mengeluarkan desahan tersebut. Setiap kali telapak tangannya diremas oleh Ayaka, jantung Haruto berdegup kencang karena terkejut. Ia pun melirik ekspresi Ayaka dari sudut matanya dan berakhir terpesona melihat profil wajah Ayaka yang tampak bersinar karena terpikat oleh film tersebut.
Karena hal itu terjadi berulang kali, isi film sama sekali tidak masuk ke dalam kepala Haruto. Waktu terus berlalu seperti itu hingga film mencapai pertengahan cerita. Ayaka, yang secara tidak sadar terus-menerus meremas tangan Haruto tanpa ampun, terus memberikan beban yang berat bagi jantung Haruto. Terhadap gadis itu, Haruto mulai merasakan sebuah dorongan untuk membalas.
Pada dasarnya, Haruto adalah sosok yang memiliki sifat pantang menyerah. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus-menerus merasa terpojok dan dibuat berdebar sendirian oleh Ayaka. Bukannya ia membenci situasi ini, namun membiarkan dirinya terus "diserang" tanpa membalas sama sekali benar-benar tidak sesuai dengan wataknya.
Haruto diam bersiaga menunggu saat yang tepat itu tiba. Ia membuang jauh-jauh pikiran liar dari kepalanya dan berusaha keras menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia memusatkan pandangan pada layar, mengukur waktu yang paling pas.
Akhirnya, adegan yang dinanti pun tiba; adegan di mana sang protagonis dan pahlawan wanita bersembunyi di balik tirai kelas yang kosong dan berciuman.
Begitu melihat adegan itu, Haruto membatin, 「Sekarang!」 dan memasang kuda-kuda.
Sesuai dugaannya, dari samping terdengar desahan 「Aa」 bersamaan dengan telapak tangannya yang diremas lembut. Pada saat itu juga, Haruto balas meremas telapak tangan Ayaka dengan kuat.
「--?!」
Bersamaan dengan itu, terdengar jeritan kecil tanpa suara dari arah samping.
Haruto melirik ke samping untuk melihat kondisi Ayaka. Gadis itu membelalakkan mata bulatnya lebar-lebar karena terkejut, tubuhnya membeku dalam posisi kaku sambil menatap tajam ke arah layar.
Haruto berpikir, mungkin Ayaka hanya terlalu terharu melihat adegan tadi. Karena itu, ia mencoba meremas telapak tangan Ayaka sekali lagi, berkali-kali dengan lebih mantap. Seketika, seolah-olah terdengar efek suara “bushuuu~” (uap panas yang keluar), Ayaka langsung membuang muka dari layar dan menunduk dalam-dalam.
Melihat reaksi Ayaka yang jauh lebih besar dari dugaannya, Haruto sempat merasa bingung. 「Lho? Apa aku melakukannya berlebihan?」 Ia pun menghentikan remasan pada telapak tangan gadis itu.
Tiba-tiba, Ayaka yang sedari tadi menunduk kini menatap Haruto dengan tatapan uwame-mukai (menatap manja dari bawah).
「Uuu...」
Tatapan itu seolah-olah sedang melayangkan protes. Namun di saat yang sama, tatapan itu juga seolah sedang menuntut sesuatu.
Di dalam bioskop yang hanya diterangi oleh cahaya dari layar, wajah Ayaka yang terpantul remang-remang terlihat begitu imajiner dan memikat. Haruto tanpa sadar terpesona melihat ekspresi tersebut.
Pada saat itulah, tangan Haruto diremas dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan remasan tak sadar sebelumnya. Sambil terus menatap Haruto dengan tatapan manja itu, Ayaka meremas telapak tangannya begitu kuat hingga kali ini giliran wajah Haruto yang memerah padam seolah mengeluarkan efek suara “boofun!”. Haruto segera membuang muka ke arah layar agar ekspresi wajahnya tidak terlihat.
Haruto benar-benar kena serangan balik yang telak.
Sayup-sayup, suara tawa kecil 「Fufu」 dari Ayaka terdengar di telinganya. Mendengar deklarasi kemenangan dari gadis itu, Haruto dengan jujur mengakui kekalahannya. Meskipun Haruto benci kekalahan, anehnya ia sama sekali tidak merasa kesal dengan kekalahannya kali ini.
Setelah itu, mereka berdua menonton sisa film dengan tenang sambil terus berpegangan tangan. Haruto sudah benar-benar kehilangan alur cerita film tersebut. Namun, agar tidak terkena serangan balik dari Ayaka lagi, Haruto hanya bisa diam dan menatap layar dengan saksama.
Akhirnya film mencapai adegan terakhirnya.
Entah bagaimana prosesnya—karena Haruto tidak memperhatikan—sang protagonis dan pahlawan wanita akhirnya resmi bersatu. Mereka berjalan perlahan di pinggir sungai yang disinari cahaya matahari terbenam. Sebagai penutup, kamera menyorot tangan mereka yang bertautan; sebuah genggaman tangan kekasih dengan jari-jemari yang saling mengunci (koibito-tsunagi).
Lagu tema mulai diputar, dan layar menampilkan deretan nama kru film (end credit). Beberapa penonton mulai berdiri dari kursi mereka dan melangkah menuju pintu keluar.
Haruto melirik ke arah Ayaka, bertanya-tanya apakah dia tipe orang yang menonton hingga akhir. Di sana, Ayaka masih menatap layar yang menampilkan end credit, namun telapak tangannya mulai bergerak-gerak gelisah di dalam genggaman Haruto.
Haruto mengira Ayaka ingin melepaskan tangan mereka. Mengingat mereka sudah berpegangan tangan lebih dari dua jam sejak sebelum film dimulai, Haruto yang mulai khawatir dengan keringat di telapak tangannya sendiri pun berniat menarik tangannya. Namun, hal itu tidak terjadi.
Ayaka tidak menarik tangannya dari telapak tangan Haruto. Sebaliknya, ia mengaitkan jari-jarinya ke jemari Haruto, lalu menggenggamnya sekali lagi dengan erat.
Telapak tangan Haruto dan Ayaka kembali menyatu. Kali ini bukan lagi sekadar genggaman biasa, melainkan telah meningkat menjadi "genggaman kekasih" dengan jari-jemari yang saling mengunci.
「Anu... Toujou-san?」
Haruto tak tahan lagi untuk tidak memanggil namanya.
「...Ootsuki-kun tipe yang menonton end credit sampai selesai?」
「Eh? Ah, iya.」
Haruto merasa bingung karena Ayaka sama sekali tidak menyinggung soal genggaman tangan mereka. Sambil tetap membuang muka, Ayaka berucap dengan nada malu-malu.
「Kalau begitu... mari kita tonton... sampai akhir, ya?」
Melihat Ayaka yang meminta dengan begitu manis, Haruto hanya punya satu jawaban.
「Iya, tentu saja.」
Bagi Haruto, film yang ditontonnya hari ini akan menjadi sebuah film yang alurnya sama sekali tidak ia pahami, namun akan menjadi film yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Setelah selesai menonton film, keduanya pergi ke kafe yang berada tepat di lantai bawah bioskop.
Kafe tersebut adalah tempat yang sudah disurvei oleh Haruto semalam; sebuah kafe bernuansa elegan yang menawarkan pemandangan kota dari balik jendela besarnya. Setelah dipandu menuju kursi di dekat jendela, Haruto tanpa sadar ikut tersenyum melihat Ayaka yang tampak gembira dengan pemandangan dari ketinggian tersebut.
「Wah, pemandangannya bagus sekali!」
「Saya senang Anda menyukainya.」
Haruto merasa lega karena pilihannya tidak salah.
「Terima kasih ya sudah mencari tempat sebagus ini.」
「Ah, tidak...」
Ayaka memberikan senyuman yang begitu memikat. Haruto segera membuka buku menu di depan wajahnya untuk menutupi rasa malu.
「Emm, saya rencananya mau pesan es kopi, kalau Toujou-san mau pesan apa?」
「Aku pesan es cafe au lait saja.」
「Baik. Ada lagi yang mau dipesan?」
「Tidak, itu saja cukup.」
「Baiklah.」
Setelah menentukan pesanan, Haruto memanggil pelayan. Begitu pesanan mereka selesai dicatat, Haruto meneguk sedikit air putihnya. Ayaka kemudian bertanya padanya.
「Bagaimana filmnya tadi menurut Ootsuki-kun? Apakah seru?」
「Eh? Ah, iya... sepertinya begitu. Kurasa, film itu akan menjadi film yang terus teringat dalam ingatan saya seumur hidup.」
Haruto menjawab dengan kalimat yang sedikit ambigu, karena ia tidak mungkin mengaku kalau alur filmnya sama sekali tidak masuk ke kepalanya gara-gara terus berpegangan tangan dengan Ayaka.
「Kalau Toujou-san sendiri bagaimana?」
「Sangat seru! Tapi...」
「Tapi?」
「Emm... di tengah-tengah cerita, aku... tidak terlalu paham lagi alurnya.」
"Tengah-tengah" yang dimaksud kemungkinan besar adalah saat Haruto mencoba melakukan serangan balik tadi.
「Begitu... ya.」
「Iya... tapi, kurasa aku juga tidak akan pernah melupakan film ini seumur hidupku.」
Ucap Ayaka sambil tersipu. Mendengar senyuman dan kata-katanya, Haruto merasakan jantungnya berdegup kencang.
「...Berarti kita sama, ya.」
「Iya... sama ya.」
Setelah saling membalas dengan malu-malu, keheningan menyelimuti mereka sejenak.
「Anu, ngomong-ngomong soal jadwal ke kebun binatang...」
「Ah, iya! Benar juga. Kita harus menentukannya ya.」
Ayaka mengangguk seolah baru teringat. Sebenarnya ini adalah topik utama mereka dan film hanyalah sampingan, namun sepertinya ia benar-benar melupakannya sampai barusan. Haruto tersenyum kecut melihat tingkah Ayaka.
「Apakah Toujou-san punya kebun binatang tertentu yang ingin dikunjungi?」
「Tentu saja aku ingin ke tempat yang bisa berinteraksi langsung dengan hewan.」
「Benar juga.」
Haruto mengangguk setuju. Pasalnya, pembicaraan tentang kebun binatang ini bermula dari tingkah Ayaka yang sangat senang saat melihat anak anjing di toko bangunan waktu itu.
「Anu, ini mungkin sedikit berbeda dari kebun binatang biasa, tapi bagaimana kalau kita pergi ke 'Taman Hutan Binatang'?」
「Ah, itu ide bagus!」
Ayaka langsung setuju dengan usulan Haruto. "Taman Hutan Binatang" adalah sebuah taman luas bertema alam. Di dalamnya terdapat area interaksi hewan, area bermain atletik dengan banyak wahana, serta area bermain air yang sangat cocok untuk menghadapi cuaca panas yang terik akhir-akhir ini.
「Kali ini Ryouta-kun juga ikut, jadi kurasa akan lebih seru kalau ada banyak jenis permainan supaya Ryouta-kun tidak bosan dan bisa menikmatinya.」
「Iya, benar juga!」
「Selain itu, di sana juga ada area rumput yang luas. Jadi, kurasa membawa bekal lalu menggelar tikar di atas rumput untuk makan bersama juga ide yang bagus.」
「Boleh! Itu ide yang bagus banget!」
Ayaka memberikan persetujuannya dengan mata yang berbinar-binar.
「Kalau begitu, sudah diputuskan ya kita akan pergi ke 'Taman Hutan Binatang'?」
「Iya! Sudah ketok palu! Tinggal jadwalnya, Ootsuki-kun bisanya kapan?」
「Begitulah. Selain jadwal kerja paruh waktu, saya tidak punya rencana khusus lainnya. Jadi, selama itu adalah hari libur kerja, saya bisa kapan saja.」
「Ah, benar juga ya.」
Mendengar kata "kerja paruh waktu" dari mulut Haruto, ekspresi Ayaka berubah menjadi sedikit merasa bersalah.
「Apa tidak apa-apa kalau aku memintamu datang ke rumah bahkan di hari liburmu?」
Pekerjaan paruh waktu Haruto adalah sebagai pengurus rumah tangga di kediaman Toujou. Karena itulah, Ayaka mungkin merasa agak sungkan jika harus meminta Haruto datang ke rumahnya meskipun di luar jam kerja resminya.
「Tidak, sama sekali tidak masalah kok.」
「Benarkah? Kalau kamu keberatan, jangan sungkan untuk mengatakannya ya?」
「Sungguh tidak apa-apa! Saya sendiri juga sangat menantikan saat bermain dengan Ryouta-kun nanti.」
「Ryouta pasti bakal senang sekali kalau aku bilang Ootsuki-kun bicara begitu.」
Membayangkan bagaimana reaksi Ryouta nanti, keduanya pun saling melempar tawa kecil.
「Kalau begitu, untuk rencana ke 'Taman Hutan Binatang', bagaimana kalau minggu depan saat saya sedang libur bekerja?」
「Iya, aku bisa.」
「Baiklah. Nanti di hari H, saya akan membuatkan bekal dan menjemput ke rumah Toujou-san di pagi hari.」
Mendengar tawaran Haruto, Ayaka menggelengkan kepalanya.
「Tidak enak kalau kamu yang membuatkan bekalnya. Hari itu kan kamu bukan sedang bekerja sebagai pengurus rumah tangga, jadi biar aku saja yang membuatnya, ya?」
「Tidak apa-apa. Saya sendiri tidak benci memasak, kok.」
「Tapi...」
Ayaka tampak masih merasa tidak enak. Setelah berpikir sejenak, wajahnya tiba-tiba terlihat seperti baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang.
「Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat bekalnya bersama-sama di pagi hari?」
「Ah, itu ide yang bagus. Mari kita lakukan itu.」
「Iya!」
Ayaka mengangguk dengan riang. Dengan begitu, telah diputuskan bahwa mereka berdua akan membuat bekal bersama di pagi hari, lalu membawa Ryouta pergi ke 'Taman Hutan Binatang' bertiga.
Setelah itu, mereka berdua mengobrol dengan asyik mengenai menu apa saja yang akan dimasukkan ke dalam kotak bekal nanti. Begitu semua rencana dirasa sudah matang dan minuman mereka telah habis, mereka pun beranjak keluar dari kafe.
「Kalau begitu... mari kita pulang.」
「Iya... ayo.」
Begitu melangkah keluar dari kafe, keduanya berhenti sejenak.
「...Emm...」
Ayaka tampak seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Haruto, sementara kedua tangannya digenggam dan dilepaskan berulang kali. Melihat tingkah laku gadis itu, Haruto memiringkan kepalanya sambil menatapnya. Mendapat tatapan dari Haruto, wajah Ayaka pun memerah karena malu.
「Ada apa?」
「Anu... itu...」
Ayaka mencoba memulai kalimatnya, namun ia kembali menutup mulut seolah kata-katanya tertahan di tenggorokan. Sambil menunduk dengan gelisah, telapak tangan kanannya terus membuka dan mengepal berulang kali sedari tadi.
Menyadari hal itu, Haruto pun memahami keinginan Ayaka dan perlahan menjulurkan tangan kirinya.
「Mau... berpegangan tangan lagi?」
「Eh?」
Mendengar tawaran Haruto, Ayaka menatap wajah pemuda itu dengan ekspresi terkejut.
「Itu... kalau ada orang yang mencoba menggoda Anda lagi kan bisa merepotkan... Itu pun kalau Toujou-san tidak keberatan, sih.」
Haruto sedikit membuang muka, telinganya memerah karena malu saat ia menyodorkan tangan kirinya dengan sedikit ragu-ragu.
Melihat hal itu, Ayaka langsung menyunggingkan senyum lebar dan seolah menerjang ke arah Haruto, ia segera mengaitkan tangan kanannya ke tangan kiri pemuda itu.
「Aku tidak keberatan! Sama sekali tidak keberatan!」
Ucapnya sambil menggenggam erat telapak tangan Haruto.
「Ka-kalau begitu, saya antar sampai rumah ya.」
「Iya, mohon bantuannya!」
Ayaka menjawab dengan senyuman yang sangat cerah.
Keduanya pun berjalan pulang menuju rumah sambil terus berpegangan tangan. Di mata orang-orang yang berpapasan dengan mereka, sosok keduanya terlihat benar-benar seperti sepasang kekasih yang sangat harmonis, sampai-sampai tidak akan ada orang yang terpikir untuk berani menggoda mereka.